Nosel.id Jakarta- Sejak kecil, Tami Rubiyanto tumbuh sebagai anak Jakarta Selatan, lingkungan yang dinamis, keras, namun penuh peluang.
Ia dibesarkan oleh kedua orang tua hebat serta dukungan kakak dan adik yang membentuknya menjadi pribadi mandiri.
Pesan orang tua yang terus terpatri hingga kini sangat sederhana, namun kuat: seorang perempuan harus mandiri, memiliki penghasilan sendiri, dan tidak bergantung pada siapa pun.
Nilai itulah yang menjadi fondasi perjalanan hidup Tami hingga hari ini.
Ketertarikan Tami pada dunia make up sebenarnya sudah muncul sejak masa SMA. Ia belajar secara otodidak, sering merias teman-teman sekolah yang tampil untuk dance, syuting, hingga photoshoot.
Dari sana, ia mulai menyadari bahwa merias wajah bukan sekadar aktivitas menyenangkan, tetapi juga potensi masa depan.
Perjalanan hidup membawanya sempat melanjutkan studi S2 di luar negeri. Namun ada satu hal yang tak bisa ia lakukan di sana: mengambil kelas make up.

Keinginan yang tertunda itu akhirnya membawanya kembali ke Indonesia untuk belajar secara profesional di Sekolah Puspita Martha. Keputusan itu menjadi titik penting yang mengubah arah hidupnya.
Tami juga sempat bekerja di toko make up internasional (Sephora). Namun hanya dalam waktu tiga hari, ia memutuskan keluar dan memilih fokus menjadi MUA secara mandiri. Langkah berani itu terbayar.
Perlahan klien berdatangan, hingga kini ia berhasil membangun tim make up sendiri, sebuah pencapaian yang lahir dari keberanian mengambil keputusan besar.
Bagi Tami, profesi ini terasa istimewa karena ia tidak pernah merasa sedang bekerja. Semua dijalani dengan hati, karena make up adalah passion yang memberinya kebahagiaan.
Meski begitu, setiap profesi tentu memiliki tantangan. Jadwal kerja yang padat sering membuatnya tidak memiliki akhir pekan seperti kebanyakan orang.
Waktu malam minggu atau hari keluarga kadang harus ia lewati demi pekerjaan.
Namun semua itu tetap ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan yang ia pilih dengan sadar.
Harapan Tami sederhana namun penuh makna: ia ingin kariernya di dunia make up dapat bertahan lama, karena baginya seni tidak mengenal batas usia.
Selama masih ada passion dan semangat belajar, selalu ada ruang untuk terus berkarya.

Pesan Tami bagi siapa pun yang membaca kisahnya juga sangat menginspirasi:
“Carilah pekerjaan yang membuat kamu tidak merasa bekerja. Dan jangan pernah berhenti sampai kamu merasa cukup.”
Kisah Tami Rubiyanto mengajarkan bahwa passion yang dipupuk sejak kecil bisa tumbuh menjadi jalan hidup.
Dengan keberanian mengambil keputusan, ketekunan, dan kepercayaan pada diri sendiri, hobi sederhana bisa berubah menjadi karier yang bermakna.
Source image: tami






