Sarah Aulia Putri “Uty”: Menjaga Mimpi, Mengawal Sepak Bola Indonesia, dan Menebar Manfaat Lewat Setiap Langkah

Nosel.id Jakarta – Bagi Sarah Aulia Putri, atau yang akrab disapa Uty, rumah selalu memiliki arti yang tak tergantikan. Lahir dan besar di Jakarta Barat, ia menyimpan begitu banyak kenangan indah yang membentuk perjalanan hidupnya hingga saat ini.

Meski Jakarta Barat identik dengan padatnya lalu lintas, khususnya kawasan Daan Mogot, Uty justru mengenang sisi lain yang begitu hangat. Baginya, rumah adalah tempat di mana keluarga saling merangkul, saudara selalu hadir, dan masa kecil dipenuhi tawa bersama teman-teman. Kenangan sederhana itulah yang membuatnya selalu merindukan kampung halamannya.

Kecintaan Uty terhadap dunia olahraga bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan. Sejak menempuh pendidikan di Program Studi Sport Science (Ilmu Keolahragaan), Universitas Singaperbangsa Karawang, ia telah mantap memilih jalan karier di bidang yang benar-benar dicintainya.

Perjalanannya dimulai sebagai bagian dari tim kesehatan dalam kompetisi sepak bola usia muda. Dari lapangan-lapangan pertandingan itulah ia mengumpulkan pengalaman, memperluas wawasan, sekaligus membangun relasi.

Berkat dedikasi dan konsistensinya, Uty kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Match Commissioner (Pengawas Pertandingan) di bawah naungan PSSI.

Baginya, setiap pertandingan bukan sekadar kompetisi, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga profesionalisme dan mendukung kemajuan sepak bola Indonesia.

Di balik profesinya, Uty menikmati banyak pengalaman berharga. Ia bersyukur dapat bertemu dengan berbagai orang, terus belajar, serta ikut berkontribusi dalam perkembangan sepak bola, khususnya di Jakarta.

Namun, profesi ini juga memiliki tantangan. Jadwal yang padat, pekerjaan di akhir pekan maupun hari libur, hingga harus sesekali jauh dari keluarga menjadi bagian dari konsekuensi yang harus dijalani.

Meski demikian, semua terasa ringan karena dijalankan dengan hati. Untuk menjaga keseimbangan, Uty selalu menerapkan skala prioritas dan mengatur waktu sebaik mungkin agar setiap tanggung jawab dapat diselesaikan secara maksimal.

Tak hanya aktif di dunia olahraga, Uty juga memiliki kepedulian besar terhadap keluarga dan pengembangan sumber daya manusia.

Ia mendirikan Dapoer Putri, sebuah usaha katering yang ia bangun sebagai bentuk dukungan agar sang ibu dapat terus mengembangkan usahanya.

Sementara itu, ia juga membentuk SportMed, sebuah komunitas yang menjadi wadah bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan olahraga untuk belajar bersama, memperoleh pengalaman langsung di lapangan, serta memperluas relasi, khususnya di bidang kesehatan olahraga cabang sepak bola.

Harapannya, komunitas tersebut dapat menjadi ruang bertumbuh bagi banyak orang sekaligus melahirkan insan olahraga yang kompeten.

Dalam setiap langkah kehidupan, Uty selalu menyertakan doa agar Allah memudahkan perjalanan karier dan usahanya, memberikan rezeki yang halal dan penuh keberkahan, serta membuka lebih banyak kesempatan bagi orang lain untuk berkembang bersama.

Lebih dari sekadar pencapaian, ia berharap selalu diberikan keikhlasan, dijauhkan dari sifat sombong, dan tetap menjadi pribadi yang rendah hati. Baginya, apa pun yang dititipkan Allah harus menjadi manfaat, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat luas.

Di akhir perbincangan, Uty membagikan pesan yang menjadi prinsip hidupnya.

Saya percaya setiap orang memiliki proses, waktu, dan jalannya masing-masing.

Jangan pernah lelah untuk terus belajar, berusaha, dan berbuat baik, karena setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membawa kita pada tujuan yang lebih besar.”

Ia juga mengajak siapa pun untuk tidak takut memulai dari bawah, karena pengalaman adalah guru terbaik yang akan membentuk kualitas diri.

Bagi Uty, kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada sesama.

Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita melangkah, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan di setiap langkah.”

 

 

Source image: uty