Nosel.id Jakarta- Bagi Stefani Anindya, hidup bukan tentang bagaimana seseorang selalu berada di atas atau terbebas dari masalah.
Hidup, menurutnya, adalah perjalanan yang di dalamnya selalu ada suka dan duka. Kesadaran sederhana itulah yang terus ia pegang dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika menghadapi masa-masa sulit maupun saat berada di titik kesuksesan.
Stefani merupakan sosok yang lahir dan besar di Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan. Meski demikian, kedua orang tuanya berasal dari Yogyakarta.
Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga dan pendidikan yang cukup disiplin. Sejak kecil, Stefani bersekolah di lingkungan sekolah Katolik yang menurutnya cukup strict.
Namun, ketika memasuki jenjang SMA di Gonzaga, ia mulai mendapatkan pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Lingkungan sekolahnya mengajarkan prinsip “bebas tapi bertanggung jawab”.
Baginya, seseorang boleh melakukan banyak hal dalam hidup, tetapi harus mampu berpikir sebelum bertindak dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Prinsip tersebut kemudian menjadi salah satu bekal penting bagi Stefani dalam menjalani kehidupannya.
Lima Belas Tahun Bertumbuh Bersama Paduan Suara
Kecintaan Stefani terhadap dunia tarik suara juga tidak muncul begitu saja. Perjalanannya dimulai ketika ia mendapatkan beasiswa dari Ibu Martina Wijaya untuk bersekolah di Paduan Suara Anak Indonesia (PSAI).

Setelah menyelesaikan kontrak beasiswa selama dua tahun, perjalanan Stefani di dunia paduan suara justru berlanjut. Conductor PSAI, Aida Swenson Simanjuntak memintanya untuk terus berada di lingkungan tersebut.
Stefani akhirnya menghabiskan hampir 15 tahun hidupnya bersama PSI.
Lingkungan paduan suara menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhannya. Di PSAI ia juga belajar untuk menjadi pribadi yang disiplin, percaya diri dan mandiri.
Ia tidak hanya belajar mengenai musik dan bernyanyi, tetapi juga mendapatkan pengalaman bertemu dengan banyak orang, mengikuti berbagai festival, hingga melakukan perjalanan ke berbagai negara.
Selama bertahun-tahun, Stefani harus membagi waktunya antara pendidikan dan passion-nya dalam bernyanyi. Baginya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya hingga saat ini.
Dunia bernyanyi kemudian berkembang menjadi salah satu bagian dari aktivitas profesionalnya.
Begitu pula dengan coaching yang ia jalani. Stefani melihat keduanya tidak jauh berbeda dengan membangun sebuah bisnis.
Belajar dari Naik Turunnya Kehidupan
Menjalani dunia bernyanyi dan coaching membuat Stefani memahami bahwa kehidupan profesional juga memiliki pasang surut. Ada masa ketika klien datang, tetapi ada pula masa ketika keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Namun, justru dari kondisi tersebut Stefani belajar untuk memiliki keyakinan dan keimanan yang lebih kuat.
Baginya, manusia memiliki tanggung jawab untuk berusaha sebaik mungkin. Setelah melakukan yang terbaik, ada saatnya seseorang harus belajar berserah dan percaya bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan waktunya.

“Kalau kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tinggal serahkan saja kepada Tuhan dan alam semesta, biar mereka yang bekerja dengan caranya,” menjadi salah satu cara pandangnya dalam menghadapi kehidupan.
Prinsip tersebut bukan berarti menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, Stefani percaya bahwa manusia tetap harus berusaha. Namun, tidak semua hasil bisa dikendalikan. Ada bagian dalam hidup yang memang harus diterima dengan keikhlasan.
Hidup Tidak Selalu Tentang Suka atau Duka
Salah satu pelajaran terbesar yang terus Stefani tanamkan dalam dirinya adalah bahwa hidup selalu memiliki dua sisi.
Ia berusaha menyadari bahwa kehidupan terdiri dari suka dan duka, bukan hanya suka atau hanya duka.
Ketika sedang berada dalam keterpurukan, seseorang tidak seharusnya melihat hidupnya sebagai sebuah kedukaan.
Begitu pula ketika sedang berada di puncak kesuksesan, memiliki banyak uang, atau mendapatkan berbagai pencapaian, bukan berarti seluruh hidup akan selamanya menjadi sebuah kebahagiaan.
Kesadaran tersebut menjadi cara Stefani menjaga dirinya agar tidak terlalu larut dalam keadaan.
Menurutnya, salah satu alasan seseorang mudah kecewa adalah ketika realitas tidak berjalan sesuai dengan ekspektasi. Karena itu, ia berusaha untuk tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada apa yang diharapkan terjadi.
Bagi Stefani, memahami bahwa hidup memiliki suka dan duka membantu seseorang untuk lebih siap menghadapi perubahan.
Meski demikian, ia mengakui bahwa menjalankan prinsip tersebut tidaklah mudah.
“And I’m still learning how to do it,” ujarnya, menggambarkan bahwa dirinya pun masih terus belajar memahami dan menjalani filosofi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Keikhlasan sebagai Salah Satu Kunci
Selain kesadaran untuk menerima suka dan duka, Stefani juga melihat keikhlasan sebagai salah satu kunci dalam menjalani hidup.
Ikhlas bukan berarti berhenti berusaha. Ikhlas adalah kemampuan untuk menerima ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan, setelah seseorang telah melakukan usaha terbaiknya.
Bagi Stefani, proses belajar menerima kehidupan tersebut merupakan perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pengalaman, baik maupun buruk, selalu memberikan pelajaran baru.
Ia percaya bahwa keterpurukan bukanlah akhir. Seseorang selalu memiliki kesempatan untuk kembali bangkit.
Karena itu, ketika berada dalam kondisi sulit, ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa keadaan tersebut hanya merupakan bagian dari perjalanan, bukan gambaran keseluruhan hidup.
Harapan untuk Indonesia dan Sesama
Di tengah kesibukannya, Stefani juga menyimpan harapan sederhana untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Ia berharap semua orang dapat menjalani kehidupan dengan sehat, terus berpikir positif, serta mampu melewati berbagai tantangan yang datang.
Ia juga berharap setiap orang dapat meraih kesuksesan, bukan hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat.
“Pokoknya all the best buat kita semua,” menjadi gambaran sederhana dari harapan Stefani.
Terlebih ketika Indonesia sedang menghadapi masa duka, ia berharap masyarakat dapat terus saling mendoakan dan memberikan dukungan satu sama lain.
Baginya, hidup bukan hanya tentang bagaimana seseorang mengejar keberhasilan untuk dirinya sendiri.
Ada nilai yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana seseorang dapat hadir dan memberikan dukungan kepada orang lain, baik ketika sedang berada dalam kebahagiaan maupun ketika menghadapi kesedihan.
Pada akhirnya, perjalanan Stefani Anindya menjadi pengingat bahwa kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian. Ada proses panjang, pengalaman, kegagalan, perjuangan, dan pembelajaran yang membentuk seseorang.

Dari dunia pendidikan, perjalanan panjang bersama paduan suara, hingga menjalani dunia bernyanyi dan coaching, Stefani belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dikendalikan.
Yang bisa dilakukan adalah terus berusaha, berpikir sebelum bertindak, bertanggung jawab atas pilihan, kemudian belajar untuk berserah dan ikhlas.
Sebab, seperti prinsip yang terus ia pegang, hidup akan selalu memiliki suka dan duka. Bukan hanya suka, dan bukan pula hanya duka.
Dan mungkin, kemampuan untuk menerima keduanya dengan hati yang lapang adalah salah satu bentuk kesuksesan yang paling penting dalam kehidupan.
Source image: Stefani Anindya






