Nosel.id Jakarta- Di antara hamparan sawah yang hijau di Sleman, Yogyakarta, seorang perempuan menjalani hidupnya dengan ritme yang tenang namun penuh makna.
Ia adalah Riza Cookies, seorang ibu Bhayangkari yang lahir di Jogja, sempat tumbuh dan besar di Kota Malang, lalu akhirnya kembali pulang ke tanah kelahirannya.
Kini, ia memilih hidup di pinggiran kota. Jauh dari hiruk pikuk, dekat dengan alam, dan lebih dekat dengan dirinya sendiri.
Udara yang sejuk, suara alam yang menenangkan, serta lingkungan yang sederhana menjadi ruang baru baginya untuk menjalani hidup dengan lebih sadar.
Namun perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan mulus.
Ia pernah menjadi seorang MUA, merintis usaha toko kue, hingga mengembangkan peternakan ayam potong dan bebek petelur. Semua dijalani dengan penuh semangat dan kerja keras.
Hingga pandemi datang mengubah banyak hal, termasuk usaha-usaha yang ia bangun dengan susah payah. Satu per satu harus terhenti, bahkan berakhir.
Bagi sebagian orang, mungkin itu adalah titik jatuh. Tapi bagi Riza, itu adalah titik balik.
Terbiasa hidup aktif, diam di rumah bukanlah pilihan yang membuatnya bertahan.
Ia mulai mencari kembali ritme hidupnya hingga akhirnya menemukan jalan lewat olahraga.
Dari sekadar bersepeda santai, ia melangkah lebih jauh ke touring, lalu mencoba hiking, hingga kini menjadikan olahraga sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya.
Seiring bertambahnya usia, kesadarannya akan kesehatan semakin kuat. Di usia kepala empat, ia memahami bahwa tubuh bukan lagi sesuatu yang bisa diabaikan.
Latihan beban menjadi kebutuhan, cardio seperti bersepeda dan lari menjadi rutinitas. Bukan karena selalu ingin, tapi karena harus.
Baginya, olahraga adalah disiplin. Adalah bentuk cinta pada diri sendiri.
“Kadang malas, tapi tetap harus dilakukan.”
Kini, ia memilih menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Tidak lagi terlalu mengejar ambisi duniawi seperti dulu. Fokusnya sederhana: menjaga kesehatan, merawat keluarga, dan menjalani aktivitas pertanian yang menenangkan.
Di tengah semua itu, ia menemukan satu hal yang dulu mungkin terlewat rasa cukup.
Ia tidak lagi mencari lebih dan lebih tanpa arah. Ia menyadari bahwa dunia ini, jika terus dikejar, tidak akan pernah benar-benar memberi kepuasan.
“Semakin ku teguk, semakin kehausan. Ku kira air, ternyata dunia.”
Sebuah refleksi yang lahir dari pengalaman panjang, jatuh bangun, dan perjalanan menemukan makna.
Kini, yang ia kejar bukan lagi sekadar pencapaian, melainkan kesehatan dan ridho dari Yang Maha Kuasa. Baginya, memiliki keluarga yang utuh, damai, dan diberi kesehatan adalah berkah yang lebih dari cukup.
Dari kehidupannya hari ini, ia membagikan pesan sederhana namun dalam:
“Sehat, bugar, dan bahagia di umur yang tak lagi muda.”
Riza Cookies mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang berlari lebih cepat atau memiliki lebih banyak.
Terkadang, justru tentang berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan memilih apa yang benar-benar penting.
Dan di tengah kesederhanaan itulah, ia menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Source image: Riza Cookies
