Nadya Ramadani, Love Yourself, You’re Cool Because That’s You

Nosel.id Jakarta- Di balik teriknya matahari Kota Palu, tumbuh sosok perempuan tangguh bernama Nadya Ramadani.

Lahir dan besar di kota yang dikenal dengan panasnya yang “sejengkal di atas kepala,” Nadya justru menemukan kehangatan dari hal yang paling sederhana, keluarga, keberagaman, dan semangat masyarakatnya.

Baginya, Palu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah yang penuh makna. Kota ini pernah diuji oleh gempa besar pada 28 September 2018, namun dari luka itu, Palu bangkit menjadi kota yang lebih kuat dan indah.

Hal itulah yang membuat Nadya begitu bangga, melihat bagaimana warganya saling menguatkan dan terus melangkah maju.

Di tengah beragam suku dan ras, ia tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan arti kebersamaan dan ketahanan.

Dalam kesehariannya, Nadya berkarier di Bank Mandiri Area Palu. Namun semangatnya tak berhenti di sana. Sejak kecil, ia telah diajarkan berdagang oleh orang tuanya.

Prinsip itu terus ia pegang hingga kini apa pun yang bisa menghasilkan peluang, akan ia jalani dengan penuh semangat. Baginya, kerja keras bukan pilihan, tetapi bagian dari cara hidup.

Di luar kesibukan kerja, Nadya menemukan pelarian sekaligus kekuatan dalam dunia lari. Uniknya, semua berawal dari fase galau.

Alih-alih larut dalam perasaan, ia memilih memperbaiki diri dan lari menjadi jalannya. Dari langkah kecil seorang diri, ia bertemu komunitas, menemukan ritme, dan akhirnya jatuh cinta pada prosesnya.

Sejak bergabung di dunia lari pada tahun 2024, Nadya terus berkembang. Ia bahkan berhasil menuntaskan Half Marathon pertamanya di Jogja Marathon 2025, sebuah pencapaian yang ia sebut sebagai kemenangan antara fisik dan mental.

Meski sempat merasa kekuatan kaki lebih dominan dari mental, ia tetap mampu menyelesaikan lomba dengan penuh kebanggaan, hingga garis akhir di Candi Prambanan.

Kini, lari bukan sekadar hobi, melainkan kebutuhan. Jika dalam seminggu ia tidak berlari, tubuhnya justru terasa lemas.

Di tengah kesibukan kantor, ia selalu membawa perlengkapan lari, siap berlari kapan saja ada waktu luang. Konsistensi menjadi kunci, dengan frekuensi latihan 3–4 kali dalam seminggu.

Tentu, perjalanan ini tidak selalu mudah. Sebagai perempuan, ia juga menghadapi tantangan seperti nyeri saat menstruasi atau waktu yang terbatas karena pekerjaan.

Namun semua itu tidak menghentikan langkahnya. Justru, ia semakin terbiasa menaklukkan hambatan baik fisik maupun situasi.

Tahun ini menjadi babak baru yang membanggakan. Nadya akan mengikuti Mandiri Half Marathon di Makassar, sekaligus dipercaya menjadi pacer dalam event lari BNN Sulawesi Tengah sejauh 7 km, pengalaman pertamanya dalam peran tersebut.

Sebuah kepercayaan yang ia sambut dengan rasa syukur dan semangat, meski harus menghadapi rute dengan elevasi naik turun.

Di balik semua pencapaiannya, Nadya menyimpan harapan sederhana namun tulus. Ia ingin keluarganya selalu sehat, rukun, dan penuh kasih sayang. Ia juga berharap suatu hari dipertemukan dengan pasangan hidup yang tepat, untuk membangun keluarga yang hangat hingga masa tua nanti.

Baginya, kebahagiaan sejati adalah ketika bisa melihat orang tua tersenyum bangga atas setiap usaha kecil yang ia lakukan.

Lebih dari itu, ia ingin terus dikelilingi oleh lingkungan yang baik, kegiatan positif, dan orang-orang yang membawa energi positif dalam hidupnya.

Pesannya pun sederhana, namun penuh makna:

Hiduplah dengan selalu menebar kebaikan, karena dari hal kecil itu bisa membawa kamu ke apa yang terbaik untukmu. Love yourself, you’re cool because that’s you.”

 

Source image: Nadya Ramadani