Nadhilla Nisrina: Dari Atlet Panahan hingga Menemukan Panggungnya di Dunia Kreatif

Nosel id Jakarta- Nadhilla Nisrina lahir dan besar di Jakarta Selatan pada 22 Juli 1995. Sejak kecil, dunia kreativitas sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Bahkan sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak, Nadhilla sudah aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti lomba fashion show hingga ajang Abang None cilik. Bagi sebagian anak, kegiatan itu mungkin sekadar pengalaman seru.

Namun bagi Nadhilla kecil, itu adalah awal dari perkenalannya dengan dunia kreatif yang kelak membentuk arah hidupnya.

Ketika memasuki usia sekolah dasar di SD Yasporbi Jakarta, ketertarikannya terhadap dunia fashion dan fotografi semakin tumbuh.

Pada tahun 2005, ia mulai mengikuti berbagai casting dan mendapat kesempatan menjadi model dalam salah satu edisi majalah Girls yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia.

Namun menariknya, pengalaman tersebut justru membuka perspektif baru bagi dirinya.

Alih-alih hanya menikmati peran sebagai talent di depan kamera, Nadhilla justru tertarik dengan aktivitas yang terjadi di balik layar, melihat bagaimana tim kreatif bekerja, bagaimana sesi pemotretan disiapkan, dan bagaimana konsep visual diwujudkan.

Sejak saat itu, dalam benaknya sudah tertanam sebuah bayangan: suatu hari ia ingin bekerja di balik layar, menjadi bagian dari proses kreatif yang membentuk sebuah karya visual.

Namun perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan lurus ke arah dunia kreatif. Ketika memasuki masa SMP di SMP Negeri 13 Jakarta pada tahun 2008, Nadhilla mencoba sesuatu yang sama sekali berbeda: olahraga panahan.

Ia bergabung dengan kegiatan ekstrakurikuler panahan dan mulai berlatih dengan serius. Tak disangka, bakatnya di bidang olahraga ini berkembang dengan sangat cepat.

Kesempatan pun datang ketika ia mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh PERPANI bekerja sama dengan Indosat. Pada ajang tersebut, Nadhilla berhasil menunjukkan kemampuannya dengan meraih tiga medali sekaligus dua medali emas dan satu medali perak.

Prestasi itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya, bahkan membuka peluang baginya untuk bergabung dengan sekolah khusus atlet di Ragunan.

Beberapa tahun berikutnya, Nadhilla menjalani masa sebagai atlet junior yang penuh disiplin dan latihan. Namun pada tahun 2013, ia dihadapkan pada keputusan besar: melanjutkan karier sebagai atlet atau fokus pada pendidikan tinggi.

Dengan pertimbangan masa depan yang lebih luas, ia akhirnya memilih untuk melanjutkan studi di Universitas Paramadina dengan mengambil jurusan Psikologi.

Meski dunia olahraga sempat menjadi bagian penting dalam hidupnya, benih ketertarikan pada dunia kreatif yang sudah tumbuh sejak kecil ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Justru di masa kuliahnya, minat tersebut kembali menemukan jalannya.

Sekitar tahun 2016, Nadhilla mulai tertarik mendalami dunia make-up. Berawal dari kebiasaan menonton berbagai tutorial kecantikan di YouTube dan mencoba sendiri berbagai teknik riasan, ia perlahan mulai mengasah keterampilannya.

Tanpa disangka, hobi tersebut membuka peluang profesional ketika ia mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai freelance assistant fashion stylist sekaligus make-up artist dalam berbagai proyek editorial, iklan, dan pemotretan.

Pengalaman itu menjadi pintu masuknya ke dunia industri kreatif secara lebih serius. Ia kemudian melanjutkan perjalanan kariernya dengan magang di salah satu media agency pada tahun 2018.

Di sana, Nadhilla juga berkesempatan mengisi berbagai konten tutorial make-up, yang semakin memperluas pengalaman dan portofolionya sebagai seorang make-up artist.

Bagi Nadhilla, menjalani profesi sebagai MUA bukan sekadar pekerjaan. Ia melihatnya sebagai ruang bermain kreatif, sebuah “playground” tempat ia bisa menuangkan ide, bereksperimen dengan warna, dan membantu orang lain tampil percaya diri. Karena itulah, meskipun profesi ini memiliki tantangannya sendiri, ia tetap menjalaninya dengan penuh rasa senang.

Suka dan duka tentu selalu berjalan berdampingan dalam setiap profesi. Namun bagi Nadhilla, kebahagiaan dalam pekerjaannya jauh lebih dominan. Ia merasa beruntung karena bisa menjalani pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan passion yang sudah ia bayangkan sejak kecil.

Adapun tantangan terbesar dalam dunia kreatif ini biasanya datang dari ritme kerja yang tidak menentu. Jadwal pekerjaan bisa sangat fleksibel sekaligus melelahkan, kadang harus memulai pekerjaan sejak subuh untuk persiapan pemotretan, atau bahkan baru selesai bekerja ketika hari sudah kembali menjelang pagi. Namun bagi Nadhilla, semua itu adalah bagian dari dinamika industri kreatif yang sudah ia pahami dan terima.

Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, Nadhilla memiliki harapan sederhana namun penting. Ia berharap para pekerja kreatif tetap memiliki ruang untuk berkarya secara bebas, tetap bisa berinovasi, dan terus menemukan peluang baru untuk berkembang.

Bagi dirinya, kreativitas adalah salah satu kekuatan yang mampu menggerakkan banyak hal, bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk industri dan masyarakat secara luas.

Melalui kisah perjalanannya, Nadhilla juga menyampaikan pesan bagi siapa pun yang sedang merajut mimpi. Ia percaya bahwa mimpi, sekecil apa pun, tidak boleh pernah dikubur. Justru dari mimpi-mimpi kecil itulah sering lahir ide-ide besar dan kesempatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Karena pada akhirnya, setiap langkah kecil yang diambil dengan keberanian bisa menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih besar.

Dan bagi Nadhilla Nisrina, perjalanan itu terus berjalan dari seorang anak kecil yang gemar mengikuti lomba fashion show, seorang atlet panahan berprestasi, hingga kini menjadi bagian dari dunia kreatif yang sejak lama ia impikan.

 

Source image: nadhilla