Marun Vit: Dari Desa Parungi hingga Borobudur Marathon, Mengajak Masyarakat Lebih Peduli pada Kesehatan

Nosel.id Jakarta- Perjalanan hidup setiap orang sering kali dimulai dari tempat yang sederhana.

Bagi Marun Vit, kisah itu berawal dari Kabupaten Gorontalo, tepatnya di sebuah desa yang dahulu bernama Desa Parungi, yang berada di jalur Trans Sulawesi.

Lingkungan yang sederhana dan kehidupan yang dekat dengan masyarakat menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Sejak awal, Marun memilih jalan pengabdian sebagai seorang bidan, profesi yang menuntut kepedulian tinggi terhadap kesehatan masyarakat.

Dalam kesehariannya, ia terbiasa membantu orang lain menjaga kesehatan. Namun sebuah momen dalam hidupnya justru membuatnya semakin sadar bahwa menjaga kesehatan juga harus dimulai dari diri sendiri.

Perubahan itu bermula ketika ia menjalani masa kehamilan. Saat itu, berat badannya sempat mencapai 99 kilogram lebih. Angka tersebut menjadi titik refleksi bagi Marun untuk mulai bergerak dan memperhatikan kondisi tubuhnya dengan lebih serius.

Olahraga kemudian menjadi bagian penting dari hidupnya. Bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga ruang rekreasi yang paling mudah diakses ketika pikiran sedang penuh atau hari terasa berat.

Bagi Marun, berlari bukan hanya tentang mengejar jarak atau waktu, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental.

Kadang ketika pikiran sedang berkecamuk atau hari terasa buruk, lari adalah cara paling sederhana untuk menenangkan diri,” ujarnya.

Seiring waktu, rutinitas itu menjadi kebiasaan yang tidak terpisahkan dari hidupnya. Di tengah kesibukan sebagai tenaga kesehatan, Marun tetap berusaha disiplin berlatih.

Ia biasanya berlari di pagi hari sebelum berangkat kerja, memanfaatkan waktu yang ada seefektif mungkin. Pada akhir pekan, ia menyempatkan diri melakukan long run, sebagai bagian dari konsistensi latihan yang ia jalani.

Ketekunan tersebut akhirnya membawanya pada berbagai pengalaman berharga di dunia lari.

Salah satu yang paling berkesan adalah ketika ia berhasil mengikuti Borobudur Marathon 2025, sebuah ajang lari bergengsi yang diikuti oleh ribuan pelari dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

Namun seperti perjalanan olahraga pada umumnya, tidak semua momen selalu menyenangkan. Ada juga masa-masa yang menantang. Salah satunya adalah ketika tubuh mengalami cedera.

Bagi seorang pelari, cedera sering kali menjadi ujian kesabaran. Marun menyebut rasa itu seperti “sakaw ingin lari”. Keinginan yang begitu kuat untuk kembali berlari, tetapi harus tertahan karena tubuh membutuhkan waktu untuk pulih.

“Pengen segera sembuh, tapi obatnya cuma satu: rest,” ungkapnya dengan jujur.

Meski demikian, pengalaman tersebut justru mengajarkannya untuk lebih memahami tubuh sendiri. Bahwa dalam olahraga, konsistensi memang penting, tetapi mendengarkan tubuh dan memberi waktu untuk pemulihan juga sama pentingnya.

Sebagai seorang bidan yang setiap hari berhadapan dengan persoalan kesehatan masyarakat, Marun memiliki harapan sederhana dari perjalanan hidup dan olahraga yang ia jalani. Ia ingin lebih banyak orang menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan.

Menurutnya, menjaga kesehatan tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana seperti olahraga teratur dan tidur yang cukup sudah menjadi langkah awal yang sangat berarti.

Ia juga memiliki pesan yang cukup tegas namun penuh kepedulian.

Jangan menunggu hasil laboratorium kamu merah semua baru sadar menjaga kesehatan,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa menjadi pasien dengan penyakit kronis bukanlah hal yang ringan. Banyak penyakit yang pada akhirnya menuntut seseorang untuk mengonsumsi obat seumur hidup, bukan hanya ketika gejala muncul.

Karena itu, ia mengajak siapa pun yang membaca kisahnya untuk mulai bergerak dari hal-hal yang paling sederhana.

Mulailah dari yang paling bisa kamu lakukan. Salah satunya? Jalan kaki,” ujarnya.

Bagi Marun Vit, perjalanan hidupnya—dari desa kecil di Gorontalo hingga berlari di ajang marathon, bukanlah tentang prestasi semata. Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah pengingat bahwa tubuh adalah amanah yang harus dijaga.

Dan kadang, langkah kecil seperti berjalan kaki bisa menjadi awal dari perubahan besar menuju hidup yang lebih sehat.

 

Source image: marun