dr. Astrid Indrafebrina Sugianto: Disiplin, Dedikasi, dan Perjalanan Panjang Menjadi Ahli Bedah

Nosel.id Jakarta- Perjalanan hidup dr. Astrid Indrafebrina Sugianto adalah cerminan dari keteguhan, disiplin tinggi, dan mimpi besar yang dirawat sejak usia dini.

Lahir di Jakarta dari orang tua asal Malang dan Surabaya, Astrid menghabiskan masa kecilnya di Cikarang sebelum akhirnya pindah ke Bandung pada tahun 2009.

Kota Bandung menjadi tempat ia bertumbuh dan menempa diri, menempuh pendidikan di SMP Negeri 5 Bandung dan SMA Negeri 3 Bandung, dua institusi yang membentuk karakter kompetitif dan berprestasi dalam dirinya.

Ia tumbuh dalam keluarga yang hangat, dengan pola didikan yang tegas dari sang ibu yang ia sebut sebagai “tiger mom.” Disiplin yang ditanamkan sejak kecil terbukti menjadi fondasi kuat bagi perjalanan hidupnya.

Bersama dua kakaknya yang juga berprestasi di bidang masing-masing, satu sebagai peneliti di Jerman dan satu lagi sebagai Chief Marketing Officer di perusahaan besar Astrid menjadi bagian dari keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan dan kerja keras.

Cita-cita menjadi dokter telah tertanam sejak usia 7 tahun, terinspirasi dari diskusi sederhana tentang Millennium Development Goals (MDGs) bersama sang ayah.

Sejak saat itu, ia bertekad mengambil peran dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak.

Langkahnya dimulai dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tempat ia menempuh pendidikan dokter (2012–2018) dengan pengalaman rotasi klinis di berbagai rumah sakit pendidikan.

Ketertarikannya pada dunia riset juga terlihat sejak awal, dengan karya ilmiah di bidang stem cell dan kanker yang menunjukkan kedalaman analisis dan ketekunan akademiknya.

Karier profesionalnya dimulai sebagai dokter internship di Banyuwangi, kemudian berlanjut sebagai dokter umum di beberapa rumah sakit di Jakarta.

Tidak berhenti di sana, Astrid aktif dalam dunia penelitian sebagai research assistant di berbagai divisi di RSCM, termasuk hematologi onkologi pediatrik dan neuroanestesiologi.

Ia juga sempat berkontribusi sebagai Junior Technical Advisor di organisasi kesehatan internasional, Netherlands Leprosy Relief (NLR) Indonesia.

Saat ini, Astrid tengah menjalani pendidikan spesialis bedah di Departemen Bedah FKUI-RSCM sejak tahun 2022. Pilihan ini bukan tanpa alasan dunia bedah menuntut presisi, ketahanan fisik dan mental, serta dedikasi tinggi karena setiap tindakan berkaitan langsung dengan nyawa manusia.

Perjalanan tersebut dipenuhi dengan tantangan besar. Masa residensi yang dikenal minim work-life balance menjadi bagian dari proses yang harus dijalani.

Namun bagi Astrid, semua itu adalah investasi waktu dan dedikasi untuk mencapai kompetensi terbaik. Ia memahami bahwa menjadi ahli membutuhkan ribuan jam latihan, pengalaman, dan pengorbanan.

Komitmennya terhadap pengembangan diri juga terlihat dari berbagai pelatihan dan sertifikasi yang telah ia ikuti, mulai dari Advanced Trauma Life Support (ATLS), Advanced Cardiac Life Support (ACLS), Basic Surgical Skills dari Royal College of Surgeons of Edinburgh, hingga pelatihan laparoskopi, endoskopi, dan trauma care tingkat lanjut.

Kemampuan akademiknya juga didukung dengan skor IELTS 8 serta kemampuan bahasa Jerman level A2.

Di bidang ilmiah, Astrid aktif berkontribusi dalam penelitian dan publikasi medis, serta meraih berbagai penghargaan, termasuk juara dalam presentasi poster ilmiah di ajang nasional dan konferensi medis.

Ia juga pernah terlibat dalam penelitian terkait kecerdasan buatan untuk skrining penyakit, menunjukkan ketertarikannya pada inovasi di dunia kesehatan.

Tak hanya unggul secara akademik dan profesional, Astrid juga memiliki sisi non-akademik yang kuat. Ia pernah menjadi penari tradisional yang tampil di panggung internasional di London, aktif dalam kepemimpinan organisasi, hingga memiliki minat dalam traveling, kuliner, musik, dan olahraga. Hal ini menunjukkan keseimbangan karakter antara intelektualitas dan kreativitas.

Di balik semua pencapaian tersebut, Astrid tetap menyimpan harapan yang sederhana namun mendalam.

Ia berharap dunia menjadi tempat yang lebih damai, di mana setiap orang bisa hidup aman bersama keluarga. Untuk dirinya sendiri, ia ingin melanjutkan ke jenjang subspesialisasi dan membangun keluarga yang harmonis.

Sebagai penutup, ia membagikan prinsip hidup yang menjadi pegangan dalam setiap langkahnya:

Fall 7, stand up 8; life will beat you down but you don’t fold.”

Hidup mungkin tidak selalu mudah, namun justru dalam jatuh dan bangkit itulah seseorang belajar untuk menjadi lebih kuat dan lebih bersyukur.

Kisah dr. Astrid adalah pengingat bahwa kesuksesan bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang konsistensi, kerja keras, dan keberanian untuk terus melangkah, apa pun tantangannya.

 

Source image: dr Astrid

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *