Dina, Cintai Dirimu Sendiri, Lainnya Akan Mengikuti!

Nosel.id Jakarta- Di ujung Pulau Madura, tepatnya di Kabupaten Sumenep, Dina tumbuh dalam keluarga yang tidak memanjakan, namun penuh makna.

Sejak kecil, ia dididik untuk menjadi pribadi mandiri bukan dengan kemudahan, melainkan dengan proses. Di keluarganya, setiap keinginan harus diperjuangkan. Hadiah bukan diberikan cuma-cuma, tetapi menjadi hasil dari usaha.

Bahkan untuk sekadar mendapatkan mainan, Dina kecil harus membuktikan dirinya dengan meraih peringkat pertama di sekolah.

Didikan itu perlahan membentuk karakter yang kuat dalam dirinya. Jiwa kompetitifnya terasah sejak dini, dan hingga kini menjadi bahan bakar dalam setiap ambisi yang ia kejar.

Baginya, jika menginginkan sesuatu, maka tidak ada jalan lain selain berusaha maksimal.

Kini, Dina merantau dan menetap seorang diri di Kota Malang. Ia bekerja di salah satu perusahaan swasta, menjalani hidup dengan kemandirian yang dulu ditanamkan orang tuanya. Namun perjalanan hidupnya tidak selalu mudah.

Ada fase di mana Dina harus berhadapan dengan dirinya sendiri saat berat badannya mencapai 80 kilogram. Pola hidup yang tidak sehat, kebiasaan mengonsumsi makanan manis, dan minimnya aktivitas fisik membuatnya merasa kehilangan kepercayaan diri.

Bahkan untuk berjalan sejauh dua kilometer saja terasa berat. Di masa itu, ia tidak hanya berjuang secara fisik, tetapi juga mental. Rasa tidak percaya diri, emosi yang tidak stabil, hingga perasaan tidak berharga sempat menghampirinya.

Tahun 2023 menjadi titik balik dalam hidupnya.

Dina mulai mencoba satu langkah kecil: olahraga. Ia memulai dari poundfit tanpa ekspektasi besar, hanya sekadar mencoba.

Namun dari satu langkah itu, lahir kebiasaan baru. Ia mulai mengatur pola makan, berlatih secara konsisten, hingga akhirnya berhasil menurunkan berat badan sebanyak 30 kilogram.

Transformasi itu bukan hanya mengubah fisiknya, tetapi juga cara pandangnya terhadap diri sendiri. Dina menemukan versi baru dirinya lebih kuat, lebih percaya diri, dan lebih menghargai tubuhnya.

Olahraga bukan lagi sekadar aktivitas, melainkan bentuk cinta terhadap diri sendiri.

Kini, yang dulu bahkan kesulitan berjalan 2 kilometer, mampu berlari hingga 20 kilometer. Bahkan dalam waktu dekat, ia bersiap mengikuti event half marathon sejauh 21 kilometer. Sebuah pencapaian yang dulu mungkin terasa mustahil.

Tak hanya itu, perjalanan Dina juga membawa dampak bagi orang lain. Melalui konten yang ia bagikan, banyak teman dan pengikutnya yang merasa terinspirasi untuk memulai hidup sehat.

Lingkaran pertemanannya pun semakin luas, dipertemukan oleh semangat yang sama: bertumbuh menjadi lebih baik.

Meski begitu, perjalanan ini juga mengajarkannya tentang batas. Ia pernah mengalami cedera akibat overtraining, terlalu memaksakan diri tanpa memberi waktu istirahat.

Dari situ, Dina belajar bahwa tubuh bukan mesin yang bisa dipaksa tanpa henti. Kini, ia lebih bijak dalam berlatih, memberikan ruang untuk recovery, dan mendengarkan apa yang tubuhnya butuhkan.

Bagi Dina, tubuhnya telah banyak berkontribusi dalam hidupnya, sehingga sudah seharusnya dijaga dan disayangi.

Di akhir ceritanya, Dina menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna untuk siapa pun yang membaca kisahnya:

Kamu berharga, bahkan tanpa validasi siapa pun. Jadi cintai dirimu dulu, sisanya akan mengikuti.”

Sebuah pengingat bahwa perjalanan mencintai diri sendiri seringkali dimulai dari langkah kecil namun mampu membawa perubahan besar dalam hidup.

 

Source image: dina