Malang, bagi Devi Aldiva, bukan sekadar kota asal melainkan rumah yang selalu ia rindukan.
Kota yang sejuk, menenangkan, dan punya cara sendiri untuk membuat siapa pun ingin kembali.
Meski pekerjaannya kerap membawanya ke berbagai kota, ada satu hal yang tak berubah: hatinya tetap pulang ke Malang.
Dari kota inilah, cerita Devi tumbuh.
Sejak muda, ia telah menemukan passion-nya di dunia busana. Lulusan SMK Tata Busana itu tidak hanya belajar menjahit, tetapi juga menanamkan identitas dalam setiap karya.
Hampir semua pakaian yang ia kenakan adalah hasil desainnya sendiri,sebuah bentuk ekspresi diri yang jujur dan penuh karakter.

Dari passion itu, lahirlah “Klambi”, ruang di mana kreativitasnya hidup dan berkembang.
Namun hidup Devi tidak hanya tentang estetika dan karya. Ada sisi lain yang jauh lebih personal “Pawon Buk Sul”.
Nama itu bukan sekadar brand, melainkan penghormatan untuk sosok yang sangat ia cintai: almarhum ibunya. Di sana, ia menghadirkan kembali masakan-masakan favorit sang ibu, seolah menjaga kenangan agar tetap hangat dan hidup.
Setiap hidangan bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang cinta yang tidak pernah benar-benar pergi.
Di balik semua itu, Devi juga menjalani peran yang tidak ringan: seorang single parent. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan, passion, dan tanggung jawab sebagai ibu.
Profesi sebagai penyanyi kerap menuntutnya bepergian ke luar kota, namun di saat yang sama, ia juga harus selalu hadir untuk anaknya, terutama di momen-momen penting seperti kegiatan sekolah.
Ada lelah yang tidak selalu terlihat. Ada rindu yang harus ditahan. Ada tanggung jawab yang tidak bisa ditunda.
Namun Devi memilih untuk tetap berjalan.
Baginya, kekuatan terbesar adalah anaknya. Dari sanalah ia menemukan alasan untuk terus bertahan, untuk terus memperbaiki diri, dan untuk terus berjuang menjadi versi terbaik dari dirinya.
Kini, ia juga mulai lebih memperhatikan kesehatannya. Ia sadar bahwa sebagai seorang ibu, menjaga tubuh tetap sehat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Ia ingin menjalani pola hidup yang lebih baik dengan menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan memperkuat spiritualitasnya.
Harapannya sederhana namun dalam: agar diberi umur panjang, kesehatan, dan rezeki yang baik, sehingga ia bisa terus mendampingi anak tercintanya tumbuh dan berkembang.
Di setiap langkah hidupnya, Devi memegang satu filosofi yang begitu kuat:
“Belajarlah hidup seperti kopi pahit. Setiap tegukan pahitnya akan memberikan kenikmatan di ujung rasanya.
Begitu pula kehidupan walaupun pahit, kamu harus menjalaninya dengan penuh semangat. Karena pada akhirnya, kenikmatan dan kebaikan akan datang.”

Dan satu lagi yang tak kalah penting, ia selalu mengingatkan:
“Jangan lupa berterima kasih pada dirimu sendiri di setiap harinya.”
Devi Queens adalah gambaran tentang perempuan yang tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh.
Ia menjahit mimpi dari keterbatasan, merawat rasa dari kehilangan, dan membuktikan bahwa bahkan dalam kepahitan, selalu ada manis yang menunggu di ujung perjalanan.
Source image: devi






