Nosel.id Jakarta- Jika ada satu kata yang bisa merangkum perjalanan hidup Yura Euis, kata itu adalah “berani.”
Berani menjalani hidup di banyak kota, berani memulai perjalanan baru, berani bangkit dari patah hati, dan berani melangkah sejauh kaki dan hati membawanya.
Yura lahir di Bekasi, tetapi hidupnya berpindah-pindah mengikuti jejak keluarga: Kebumen, Bekasi, Serang, Bandung dan kini ia bekerja di Jakarta. Identitasnya tidak terikat satu kota, tapi justru melekat pada semua tempat yang pernah ia tapaki.
Namun, ada satu tempat yang selalu menjadi rumah di hatinya: Kebumen.
Di sanalah ia tumbuh sejak usia 2,5 sampai 12 tahun bersama kakek dan nenek yang penuh kasih.
Rumahnya adalah rumah joglo tua yang sederhana tapi hangat tempat di mana aroma masakan nenek, suara angin, dan tawa keluarga menjadi memori paling berharga.
Lingkungannya begitu hidup: hewan-hewan peliharaan yang memenuhi halaman, pohon buah yang tumbuh di setiap sisi, sawah yang menghampar, sungai kecil tempat ia mandi dan mencari ikan, hingga laut yang hanya berjarak 15 menit perjalanan motor.
Itu bukan sekadar masa kecil.
Itu adalah fondasi jiwa Yura jiwa yang dekat dengan alam, mandiri, dan penuh rasa syukur.
Kini, Yura bekerja sebagai Receptionist di Jakarta Selatan.
Namun hidupnya tidak berhenti di rutinitas kantor. Ia juga seorang freelance Make-Up Artist, model, dan bahkan tour guide pendakian.
Hidupnya penuh warna, penuh pertemuan, penuh cerita.
Tapi perjalanan besar justru dimulai dari sesuatu yang menyakitkan.
Tahun 2020 menjadi titik balik. Hubungan selama hampir lima tahun berakhir, dan rencana pernikahan 2021 gagal. Luka itu dalam, dan Yura sempat goyah.
Namun, ia memilih sesuatu yang tidak semua orang berani lakukan: perjalanan solo tanpa rencana pulang.
Dalam waktu dua bulan, ia melakukan solo trip ke: Lombok, Labuan Bajo, Bali juga Yogyakarta.
Ia memesan tiket pesawat hanya dua hari sebelum berangkat dan pergi dengan sebuah kebohongan kecil untuk melindungi hati yang rapuh.
Ketika akhirnya ia jujur pada orang tuanya dari Lombok, mereka terkejut, tetapi tetap menyayanginya.
Bagi Yura, itu momen ketika ia belajar bahwa manusia bisa jatuh, tapi tetap bisa bergerak maju.
Di sebuah kamar hostel berisi delapan orang, Yura bertemu Theo seorang videografer yang sedang bertugas.
Dari obrolan sederhana, Yura mengenal dunia baru: dunia pendakian.

“Kalau naik gunung lagi, kabarin aku ya,” begitu katanya.
Tak lama, ajakan itu datang. Gunung pertama Yura? Lawu.
Bukan gunung kecil, bukan juga pendakian ringan. Tetapi ia berangkat, dengan alat sewa, tanpa latihan, dan bermodal keberanian.
Di Lawu, ia mengalami segalanya:
hujan, dingin, demam, flu, sakit perut dan sebuah pengalaman spiritual ketika hanya ia yang mendengar suara lemparan batu di malam buta.
Namun di puncak Lawu, ada kejutan:
teman-temannya menyiapkan kue ulang tahun kecil untuknya.
Tepat di hari ketika ia paling membutuhkan rasa hangat dari seseorang.
Setelah Lawu, bukannya menyerah, Yura justru kecanduan.
Seminggu kemudian ia mendaki Semeru, lalu Kerinci, dan dalam 3–4 bulan, ia menyelesaikan 14 gunung.
Dari patah hati, ia menemukan cinta baru: cinta pada dunia, pada perjalanan, dan pada dirinya sendiri.
Suka Duka Dunia Solo Traveler, sukanya banyak seperti bertemu orang baru yang seru, lalu belajar nilai hidup dari banyak karakter juga menikmati alam dan ciptaan Tuhan dll.
Dukanya kadang kesepian, harga tiket yang menggila, bertemu orang yang kurang baik, teman trip yang ribet juga harus ekstra waspada sebagai perempuan Tapi semua itu tidak pernah menghentikan langkah ini.
Setiap perjalanan, setiap langkah, setiap puncak gunung menguatkan doanya:
Semoga keluarga selalu sehat dan kuat, semoga hidup dipenuhi ketenangan dan kebahagiaan.
Semoga rezeki halal dan cukup, karier semakin baik dan selalu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
Yura percaya bahwa rasa cukup adalah bentuk kebahagiaan yang paling nyata.
Pesan Yura bagi siapa pun yang membaca kisahnya:
“Sebesar apa pun masalahmu, tetaplah di jalan yang baik.
Berpikir positif, berdoa, dan jangan menyerah.Tuhan selalu punya cara untuk membalas luka dengan sesuatu yang jauh lebih indah.”
Dari rumah joglo di Kebumen, dari sungai kecil tempatnya mandi saat kecil, dari patah hati yang hampir menjatuhkannya, Yura kini berdiri sebagai perempuan yang kuat, mandiri, dan berani.
Ia membuktikan bahwa hidup selalu punya cara untuk membuat kita tumbuh selama kita memilih untuk melangkah.
Source image: Yura















