Windi Kusuma: Terus melangkah, Kita Tak Pernah Tahu Kapan Waktu Terbaik Itu Tiba

Nosel.id Jakarta- Hidup kadang punya caranya sendiri untuk bikin kita tumbuh. Tidak selalu lewat hal-hal besar, tapi justru dari nilai kecil yang ditanamkan sejak kecil.

Begitu pula perjalanan seorang Windi Kusuma, perempuan yang lahir dari keluarga Jawa sederhana asal Purwokerto, namun tumbuh besar di tengah riuhnya Jakarta.

Sejak kecil, keluarga mengajarinya bahwa harga diri tidak pernah ditentukan oleh harta.

Tapi oleh cara kita memperlakukan orang lain, cara kita jujur pada diri sendiri, dan cara kita memperjuangkan hidup. Nilai itu yang diam-diam membentuk keteguhannya hingga hari ini.

Dunia hospitality membuatnya belajar satu hal: kepercayaan tidak bisa dibeli, hanya bisa dirawat.

Karier Windi di dunia hospitality dari sales, marketing, hingga hubungan relasi membawanya bertemu banyak orang dan banyak cerita.

Dari sana, ia sadar bahwa melayani orang lain bukan soal formalitas. Bukan soal senyum yang dipaksakan. Tapi soal ketulusan.

Baginya, hubungan yang baik selalu tumbuh dari hati. Dan ketika kita bekerja dengan jujur, kepercayaan akan datang dengan sendirinya.

Namun hidup tidak selamanya berjalan seperti yang Windi harapkan.

Ada masa ketika semuanya terasa runtuh bersamaan.

Ia gagal menyelesaikan skripsinya. Gelar sarjana yang sudah lama ia impikan seolah menghilang begitu saja.

Untuk sebagian orang, itu mungkin hal kecil. Tapi bagi Windi, itu rasanya seperti kehilangan bagian penting dari dirinya.

Belum selesai ia berdamai dengan kegagalan itu, pernikahannya pun kandas. Rumah yang ia kira akan menjadi tempat pulang, berubah menjadi kenangan yang membuat dada terasa sesak.

Dalam satu waktu, Windi merasa kehilangan banyak hal: mimpi, rencana masa depan, dan rasa percaya diri yang dulu begitu kuat.

Sampai ia sadar bahwa ada satu alasan yang membuatnya harus bangkit kembali.

Saat semuanya gelap, ada satu hal yang membuat Windi kembali berdiri: anaknya.

Anaknya melihat dunia melalui dirinya. Dan ia tidak ingin anak itu melihat seseorang yang menyerah di tengah jalan.

Maka Windi mulai berjalan lagi pelan, tapi pasti. Ia kembali mengejar pendidikan yang tertunda.

Ia bekerja lebih keras untuk memastikan anaknya mendapatkan sekolah dan masa kecil yang baik, sesuatu yang tak mungkin ia ulang bila melewatkannya sekarang.

Jatuh bukan akhir. Kadang itu adalah titik mulai yang baru.

Dari perjalanan itu, Windi belajar satu hal penting: hidup bukan tentang siapa yang sempurna atau paling cepat.

Hidup adalah tentang siapa yang memilih untuk tetap berdiri, meski sudah jatuh berkali-kali.

Justru dari titik tersulit itu, ia menemukan versi dirinya yang lebih kuat.

Lebih lembut. Lebih percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah memberikan jalan.

Kini, Windi hanya memegang satu moto sederhana yang lahir dari luka dan proses panjang:

Jalani hidup dengan baik. Jangan merasa tertinggal. Terus melangkah, karena kita tidak pernah tahu kapan waktu terbaik itu tiba.”

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak kita menang.

Tapi tentang bagaimana kita bertahan, bangkit, dan tetap berjalan walau langkah itu kecil dan pelan.

 

 

Source image: windi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *