Wido Angguna: Merantau Sejak Dini, Menjalani Hidup dengan Disiplin, Doa, dan Keteguhan

Nosel.id Jakarta- Wido Angguna lahir di Pelaihari, Kalimantan Selatan.

Namun takdir membawanya merantau sejak usia belia. Karena tuntutan pekerjaan orang tua, ia dan sang kakak dibawa ke Pasuruan, Jawa Timur, sejak kelas 5 SD dan menetap hingga hari ini.

Jauh dari kampung halaman dan hidup di tanah perantauan membuat Wido kecil belajar satu hal penting lebih cepat dari kebanyakan anak seusianya: kemandirian.

Sejak kelas 5 SD, Wido sudah terbiasa menjalani hari tanpa kehadiran orang tua di sisi setiap waktu.

Ketika Ayahnya pensiun pada 2013, barulah kedua orang tuanya kembali ke Pasuruan.

Namun kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Tahun 2015 menjadi salah satu fase paling berat dalam hidupnya saat sang ayah berpulang.

Kini, satu-satunya orang tua yang menemani langkah hidupnya adalah Mamak, ibu yang menjadi sumber kekuatan dan doa.

Sejak masa sekolah, Wido dikenal aktif, disiplin, dan memiliki semangat berorganisasi yang kuat.

Saat SD, ia bercita-cita masuk SMP Negeri 1, dan alhamdulillah tercapai. Di SMP, ia aktif sebagai pengurus OSIS dan Pramuka. Mimpinya terus bertumbuh.

Ia ingin menjadi bagian dari Paskibraka Kota, dan dengan kerja keras serta latihan tanpa henti, cita-cita itu terwujud saat ia duduk di bangku SMA.

Tahun 2005, Wido resmi menjadi Paskibraka Kota, sebuah pengalaman yang semakin menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan nasionalisme dalam dirinya.

Cita-citanya tidak berhenti di sana. Wido memiliki keinginan kuat untuk menjadi seorang perawat.

Ia pun melanjutkan pendidikan di Akademi Keperawatan Pemkot Pasuruan.

Di masa kuliah, ia menyimpan satu mimpi sederhana namun bermakna: suatu hari mengenakan seragam KORPRI sebagai Aparatur Sipil Negara.

Mimpi itu terus ia jaga, ia doakan, dan ia perjuangkan dengan sabar.

Waktu berjalan, proses tidak selalu mudah, namun keyakinan tidak pernah ia lepaskan. Hingga akhirnya, pada tahun 2024, doa panjang itu terjawab.

Wido resmi menjadi ASN. Sebuah pencapaian yang bukan hanya tentang status, tetapi tentang perjalanan panjang penuh disiplin, kesabaran, dan keikhlasan.

Allahu Akbar,” ucapnya, sebagai ungkapan syukur atas apa yang Allah titipkan setelah penantian panjang.

Di luar pendidikan dan karier, olahraga menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Wido. Kecintaannya pada olahraga dimulai sejak SMP dan SMA melalui basket.

Saat pandemi COVID-19, ia menemukan kebahagiaan baru lewat bersepeda, menjelajah gunung, menempuh long ride, dan menikmati sunyi perjalanan.

Dari sanalah ia mulai mengenal komunitas lari.

Hingga kini, lari dan bersepeda menjadi rutinitas akhir pekan, bukan sekadar menjaga kebugaran, tetapi juga menjaga kewarasan dan semangat hidup.

Harapan Wido sederhana namun tulus: semoga hidup ini dipenuhi kebaikan, kemudahan, rezeki yang berkah, serta dikelilingi lingkungan yang baik dan positif.

Ia ingin terus melangkah dalam lindungan Allah SWT, menjalani hidup dengan hati yang tenang dan niat yang lurus.

Dengan kerendahan hati, Wido tidak mengklaim dirinya sebagai siapa-siapa. Namun justru dari kesederhanaan itulah pesannya terasa kuat:

Hidup memang harus dijalani apa adanya, dengan segala prosesnya.

Tapi satu hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah kerja keras yang sungguh-sungguh dan doa yang terus mengiringi setiap langkah.

Karena bagi Wido Angguna, tidak ada jalan pintas menuju kehidupan yang bermakna—yang ada hanyalah konsistensi, keteguhan, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah waktu.

 

 

Source image: wido

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *