Nosel.id Jakarta- Stephani Manroe tumbuh di Kota Medan, Sumatera Utara, sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara.
Jarak usia yang cukup jauh dengan kakak-kakaknya membuat ia menjalani masa kecil dengan dinamika tersendiri.
Saat saudara-saudaranya mulai merantau, Stephani justru sempat diminta untuk tetap tinggal demi menjaga orang tua.
Namun di dalam dirinya, ada keyakinan besar bahwa ia juga mampu mandiri, melangkah lebih jauh, dan membanggakan keluarga.
Ia dibesarkan dalam pola asuh yang disiplin dan terarah. Sejak SD hingga SMA, orang tuanya diam-diam mendaftarkannya ke beberapa lembaga les sekaligus membatasi waktu bermain, tetapi memperkuat fondasi akademiknya.
Bagi Stephani, semua itu bukan tekanan, melainkan bentuk cinta yang kemudian ia balas dengan prestasi.
Kerja kerasnya membuahkan hasil: sejak SMP hingga kuliah, ia terus berprestasi hingga akhirnya dinobatkan sebagai lulusan terbaik ke-3 di Poltekkes Kemenkes Jakarta.
Namun perjalanan hidupnya tidak hanya tentang akademik. Sejak usia remaja, Stephani sudah memiliki kepedulian sosial yang kuat.
Ia mendirikan taman baca sederhana di bawah kolong jembatan di Medan, mengumpulkan buku-buku layak baca dan berbagi waktu dengan anak-anak jalanan.
Dari sana, ia belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas, tetapi juga tentang kehadiran dan kepedulian.
Awalnya, ia sempat diterima di jurusan Psikologi. Namun karena tidak mendapat restu orang tua, ia memilih jalan lain menjadi seorang bidan.
Pilihan yang awalnya mungkin terasa sebagai kompromi, justru menjadi panggilan hidup yang sesungguhnya.
Di bangku kuliah, Stephani aktif dalam organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa selama dua periode dan dipercaya sebagai Menteri Sosial Masyarakat.
Ia menggagas berbagai program seperti desa binaan yang berfokus pada kesehatan dan pendidikan, hingga gerakan “Koin Peduli Jiwa” untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Dedikasinya membuat ia sering diundang sebagai pembicara dan terlibat dalam berbagai kolaborasi sosial.
Kini, Stephani mengabdikan dirinya sebagai bidan di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Pusat, sekaligus mengelola klinik keluarga di Citayam.
Bagi Stephani, profesi bidan bukan sekadar pekerjaan melainkan jalan hidup.
Ia menyebut dirinya sebagai “pendamping perempuan”, karena setiap hari ia hadir dalam momen paling penting dalam kehidupan seorang wanita: kehamilan, persalinan, hingga perawatan bayi.
Klinik yang ia bangun bersama keluarga bukan semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan pada nilai kemanusiaan.
Tidak jarang pasien datang dengan keterbatasan finansial, namun Stephani memilih untuk tetap membantu tanpa memaksa pembayaran.
Ia percaya bahwa setiap kebaikan akan kembali dalam bentuk yang tak terduga—melalui doa-doa tulus dari para pasien yang ia bantu.
Di tengah kesibukannya, Stephani juga aktif berbagi melalui media sosial. Ia mendokumentasikan keseharian, pekerjaannya, serta edukasi seputar dunia kebidanan di Instagram dan TikTok.
Misinya sederhana namun berdampak besar: memperkenalkan profesi bidan kepada masyarakat luas, sekaligus memberi semangat bagi para mahasiswa kebidanan agar tetap bertahan dan bangga dengan pilihan mereka.
Ia juga membentuk sebuah forum bernama Asiacare (Asuhan Sayang Ibu dan Anak) wadah bagi bidan-bidan lulusan baru untuk belajar, berkembang, dan bersama-sama memberikan pelayanan terbaik bagi para ibu.
Tentu, perjalanan ini tidak selalu mudah. Waktu bersama keluarga dan teman sering kali harus dikorbankan. Panggilan tugas bisa datang kapan saja bahkan di tengah malam.
Bangun pukul tiga dini hari untuk membantu persalinan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Namun setiap tangis pertama bayi yang lahir dengan selamat selalu menjadi pengganti lelah yang tak ternilai.
Bagi Stephani, setiap kurangnya waktu istirahat akan selalu Tuhan ganti dengan kebahagiaan dalam bentuk hadirnya kehidupan baru ke dunia.
Ke depan, Stephani berharap kehadirannya bisa menjadi semangat bagi para perempuan untuk percaya pada setiap peran dan amanah yang mereka jalani.
Ia ingin semakin banyak orang menyadari bahwa profesi bidan adalah profesi yang penting, dekat, dan selalu ada untuk perempuan di setiap fase kehidupan.
Ia juga percaya bahwa segala yang ia capai hari ini tidak lepas dari doa keluarga. Dan dalam hal rezeki, ia meyakini satu hal sederhana: setiap kebaikan yang ditabur, pasti akan Tuhan perhitungkan dengan cara-Nya sendiri.
Sebagai penutup, Stephani memegang teguh prinsip hidup yang menjadi penguat dalam setiap langkahnya:
“Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Gagal mungkin selalu mengawali, tapi berhasil akan menjadi akhir dari perjalanan.”
Kisah Stephani Manroe adalah bukti bahwa hidup yang dijalani dengan ketulusan, kerja keras, dan hati untuk melayani akan selalu menemukan jalannya dan memberi arti, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi banyak kehidupan lainnya.
Source image: Stephani Manroe
