Nosel.id Jakarta- Sri Wulandari tumbuh dari tanah Sulawesi Tengah lahir di Kota Palu, namun menghabiskan masa kecil hingga bangku SMA di Kabupaten Donggala, sebuah kota tua yang menyimpan banyak kenangan hangat dalam hidupnya.
Di sanalah ia mengenal arti rumah yang sesungguhnya: bukan sekadar tempat, tetapi rasa. Rasa yang lahir dari keluarga yang penuh cinta, dari kebersamaan sederhana yang kini justru paling dirindukan.
Donggala bagi Sri bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi fondasi yang membentuk siapa dirinya hari ini.
Setiap sudutnya menyimpan cerita tentang tawa masa kecil, tentang kehangatan keluarga, dan tentang kehidupan yang berjalan tanpa banyak tuntutan, namun penuh makna.
Perjalanan hidup Sri kemudian membawanya ke dunia perbankan, sebuah lingkungan yang penuh ritme cepat, tanggung jawab besar, dan tuntutan profesional yang tinggi.
Hari-harinya diisi dengan kesibukan, waktu yang lebih banyak dihabiskan di kantor, bahkan akhir pekan pun seringkali hanya menjadi waktu untuk beristirahat dari lelahnya rutinitas.
Dalam fase itu, ia menjalani hidup dengan disiplin, tetapi perlahan menyadari bahwa ada sesuatu yang mulai terasa hilang: ruang untuk dirinya sendiri.
Hingga akhirnya, Sri mengambil keputusan besar resign dari dunia perbankan. Sebuah pilihan yang tidak mudah, tetapi menjadi titik balik dalam hidupnya.
Keputusan itu bukan sekadar tentang berhenti dari pekerjaan, tetapi tentang memilih kembali dirinya sendiri.
Kini, hari-hari Sri terasa berbeda. Ia menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang, lebih sadar, dan lebih jujur pada apa yang ia butuhkan.
Aktivitasnya diisi dengan menerima endorsement, berolahraga terutama lari yang menjadi bagian dari gaya hidup sehatnya, serta meluangkan waktu untuk traveling—menikmati hidup dengan cara yang lebih ringan namun bermakna.
Ada rasa lega yang tak tergantikan. Seolah beban yang selama ini dipikul perlahan terangkat. Tidak lagi dibayangi tekanan pekerjaan, tidak lagi terjebak dalam rutinitas yang menguras energi.
Ia menemukan kembali kebahagiaan dalam hal-hal sederhana dalam waktu luang, dalam gerak tubuh yang aktif, dan dalam kebebasan untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Namun, Sri juga memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Melepaskan sesuatu yang stabil demi sesuatu yang belum pasti membutuhkan keberanian dan keyakinan.
Tapi baginya, kesehatan mental dan kesejahteraan diri adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang benar-benar menjalani.
Harapannya di tahun ini sederhana namun kuat: menjadi lebih baik dari sebelumnya. Memperbaiki apa yang perlu diperbaiki, mewujudkan apa yang selama ini tertunda, dan terus melangkah dengan kesadaran bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.
Melalui kisahnya, Sri menyampaikan pesan yang hangat dan tulus, terutama untuk sesama perempuan:
Tidak apa-apa jika hari ini merasa gagal. Tidak apa-apa jika jalan terasa berat.
Karena seperti hujan yang selalu diikuti pelangi, setiap fase sulit akan membawa keindahannya sendiri.
Yang terpenting adalah tetap berusaha, tidak menyerah, dan terus berproses.
Dan di atas segalanya, jangan pernah berhenti menjadi orang baik.
Kisah Sri Wulandari adalah tentang keberanian untuk melepas, tentang memilih diri sendiri tanpa rasa bersalah, dan tentang menemukan kembali makna hidup di tengah kesederhanaan.
Sebuah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi selalu layak untuk diperjuangkan.
Source image: Sri Wulandari
