Nosel.id Jakarta- Pebrina Ramadhani yang akrab disapa Dhani adalah perempuan yang tumbuh dan berakar kuat di satu tempat: Samarinda.
Kota itu bukan sekadar titik di peta, melainkan ruang penuh kenangan, tempat ia lahir, dibesarkan, dan belajar memahami arti rumah.
“Banyak sekali cinta di sini,” ujarnya singkat, namun cukup untuk menggambarkan kedekatan emosionalnya dengan kota tersebut.
Samarinda baginya adalah tentang kehangatan tentang keluarga yang selalu ada, tentang lingkungan yang membentuknya menjadi pribadi yang hari ini ia jalani dengan penuh kesadaran.
Perjalanan karier Dhani di dunia perbankan bukanlah sesuatu yang sejak awal ia impikan.
Ia jujur mengatakan bahwa profesinya saat ini adalah sebuah pilihan, bukan cita-cita masa kecil. Namun justru dari pilihan itulah, ia menemukan arah.
Seiring waktu, pekerjaan yang dijalani dengan konsistensi dan penerimaan berubah menjadi sesuatu yang selaras dengan dirinya.
Ia menemukan “fashion”-, ritme kerja yang cocok, ruang berkembang, dan makna dalam setiap proses yang dijalani.
Sebuah pengingat bahwa tidak semua hal harus dimulai dari mimpi besar; terkadang, makna justru ditemukan di tengah perjalanan.
Dalam dunia kerja yang dinamis dan penuh tekanan, Dhani menyadari satu hal penting: menjaga diri sendiri adalah prioritas. Baginya, kesehatan mental bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan utama.
Ia memiliki prinsip sederhana namun kuat, memiliki “saklar” dalam hidup. Ketika pekerjaan selesai, ia benar-benar berusaha mematikannya.
Tidak lagi membuka grup WhatsApp kantor, tidak membawa beban kerja ke rumah. Waktu di luar pekerjaan adalah ruang untuk dirinya kembali utuh.
Di sanalah Dhani mengisi ulang energi melalui olahraga dan aktivitas yang ia cintai. Mulai dari pound, tenis, hingga lari, semua menjadi cara untuk menjaga keseimbangan antara tubuh dan pikiran.
Baginya, hidup yang menyenangkan bukan berarti tanpa tekanan, tetapi tentang bagaimana kita menciptakan ruang untuk bernapas di tengah kesibukan.
Di balik kesederhanaan rutinitasnya, Dhani menyimpan harapan yang dalam. Ia tidak berbicara tentang ambisi besar yang rumit, melainkan tentang hal-hal yang paling esensial dalam hidup.
“Semoga rumah selalu menjadi tempat pulang yang paling tenang,” harapnya.
Sebuah kalimat yang terasa sederhana, namun mengandung makna tentang rasa aman, cinta, dan kehangatan yang sering kali menjadi fondasi dari segalanya.
Ia juga berharap setiap anggota keluarganya diberikan kesehatan dan rezeki dalam berbagai bentuk sebuah doa yang tulus, yang mencerminkan bahwa kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal yang tidak terlihat megah, tetapi terasa dalam.
Di akhir, Dhani meninggalkan pesan yang mengajak kita untuk kembali melihat manusia sebagai manusia.
“Memanusiakan manusia itu bukan perkara mudah. Dibutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan, kecerdasan, bahkan pengalaman.”
Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang benar-benar tahu bagaimana menghargai, mendengarkan, dan memperlakukan orang lain dengan penuh martabat. Di dunia yang bergerak cepat, empati sering kali tertinggal.
Karena itu, ia menutup dengan satu pengingat penting jangan lupa memberi ruang bagi hati untuk tetap merasa bahagia.
Kisah Pebrina Ramadhani adalah tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, antara ambisi dan ketenangan, antara menjadi kuat dan tetap lembut sebagai manusia.
Sebuah refleksi bahwa hidup tidak selalu harus luar biasa untuk bisa bermakna. Kadang, cukup dengan tahu kapan harus berhenti, pulang, dan menjadi diri sendiri sepenuhnya.
Source image: pebrina
