Nosel.id Jakarta- Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari tempat yang mudah. Bagi Sophie, kisah hidupnya berakar dari Tarutung, sebuah kota kecil yang berada tidak jauh dari Danau Toba.
Di sanalah ia lahir dan menghabiskan masa kecilnya. Sebuah kota yang sederhana, dengan alam yang indah dan kehidupan yang tenang.
Namun di balik kesederhanaan itu, Sophie tumbuh dalam situasi keluarga yang tidak sepenuhnya hangat seperti yang banyak orang bayangkan.
Ia tidak menutupi kenyataan itu. Masa kecilnya bukan cerita tentang keluarga yang penuh pelukan dan kenyamanan setiap hari. Tetapi ada satu sosok yang menjadi pilar kuat dalam hidupnya: ibunya.
Ibunya adalah perempuan yang berjuang keras untuk anak-anaknya. Seorang ibu yang mungkin tidak selalu memiliki segala hal yang sempurna, tetapi memiliki hati yang tidak pernah berhenti memperjuangkan masa depan anak-anaknya.
Ketika Sophie mengenang perjalanan hidupnya, ia sering kali tak kuasa menahan air mata.
Hari ini, kondisi sang ibu tidak lagi seperti dulu. Setelah mengalami stroke hingga tiga kali, ibunya kini tidak lagi dapat beraktivitas seperti sebelumnya.
Kenangan tentang perjuangan sang ibu justru menjadi pengingat bagi Sophie tentang betapa berharganya keteguhan dan cinta seorang perempuan.
Perjalanan Sophie juga penuh keberanian sejak usia muda. Pada usia 16 tahun, ia mengambil keputusan besar yang tidak semua orang berani lakukan, pindah ke Bandung sendirian.
Di kota itu ia mulai menata masa depan, melanjutkan pendidikan hingga akhirnya berkuliah di Universitas Padjadjaran.
Rasa haus akan ilmu membawanya melangkah lebih jauh. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia dan kemudian menetap di Jakarta. Selama sekitar sepuluh tahun, ibu kota menjadi saksi dari berbagai fase kehidupan, kerja keras, dan proses pendewasaan dirinya.
Namun perjalanan Sophie tidak berhenti di sana. Hidup membawanya melangkah lebih jauh hingga ke Amerika Serikat.
Di negeri itu, ia menjalani kehidupan yang sangat berbeda, ritme hidup yang cepat, pekerjaan yang menuntut, dan hari-hari yang terasa seperti perlombaan tanpa jeda.
Ia bekerja keras, bahkan sering menggambarkannya dengan sederhana: bekerja seperti kuda.
Di tengah kesibukan itu, muncul satu keinginan besar dalam dirinya, keinginan untuk berhenti sejenak. Keinginan untuk hidup lebih pelan. Keinginan untuk benar-benar merasakan hidup.
Keinginan itu akhirnya ia wujudkan. Sophie meninggalkan Amerika dan memilih menjalani kehidupan yang lebih tenang. Kini ia tinggal di Thailand, mencoba menjalani apa yang sering disebut banyak orang sebagai slow living.
Sebuah fase di mana ia memberi ruang bagi dirinya untuk mereset hidup, menata ulang arah, dan memahami kembali apa yang sebenarnya penting.
Namun seperti banyak hal dalam hidup, realita tidak selalu sama dengan bayangan.
Pada tahun pertama, ia benar-benar menikmati kehidupan yang lebih pelan. Tanpa tekanan pekerjaan yang berat, tanpa hiruk pikuk kehidupan yang terlalu cepat.
Tetapi memasuki tahun kedua, ia justru menemukan sisi lain dari slow living, rasa bosan.
Pengalaman itu membuatnya tersenyum ketika menceritakannya. Dulu ia begitu ingin meninggalkan kehidupan yang terlalu sibuk. Sekarang, setelah benar-benar hidup santai, ia menyadari bahwa manusia memang selalu mencari keseimbangan.
Di tengah berbagai fase hidup itu, Sophie menemukan satu mantra yang terus ia pegang hingga sekarang:
Everything is gonna be alright.
Kalimat yang terdengar sederhana, tetapi ia akui tidak selalu mudah untuk benar-benar diyakini dalam kehidupan sehari-hari.
Namun baginya, kalimat itu menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu harus dipahami sepenuhnya hari ini. Kadang kita hanya perlu terus berjalan dan percaya bahwa semuanya akan menemukan jalannya sendiri.
Sophie juga memiliki pesan yang sangat kuat, terutama bagi perempuan yang mungkin berada di fase hidup yang sering kali dipertanyakan oleh masyarakat, perempuan berusia 35 tahun ke atas yang masih sendiri.
Baginya, status pernikahan tidak pernah boleh menjadi ukuran keberhasilan seseorang.
Ia mengatakan dengan tegas:
Being single is not a failure. Choosing the wrong partner is.
Menjadi single bukanlah kegagalan. Justru memilih pasangan yang salah bisa menjadi kesalahan yang jauh lebih besar. Karena pada akhirnya, yang paling penting adalah menjaga kedamaian dalam diri.
Menurut Sophie, peace of mind adalah salah satu hal paling berharga dalam hidup. Ketika seseorang memiliki kedamaian dalam pikirannya, ia memiliki ruang untuk hidup dengan lebih jujur, lebih tenang, dan lebih bahagia.
Bagi Sophie, perjalanan hidup bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain. Hidup adalah tentang menemukan keseimbangan, menjaga diri sendiri, dan berani memilih jalan yang mungkin tidak selalu dipahami oleh banyak orang.
Dan di tengah segala ketidakpastian itu, satu hal tetap ia percaya.
Semuanya akan baik-baik saja.
Source image: sophie
