Nosel.id Jakarta- Seranitha lahir di Malaka, sebuah kabupaten baru di Nusa Tenggara Timur.
Namun masa kecilnya tidak sepenuhnya dihabiskan bersama orang tua.
Saat ayah dan ibunya merantau ke Kalimantan demi bertahan hidup, ia dititipkan kepada sang Bude.
Sejak usia dini, Seranitha belajar arti hidup tanpa kebebasan, tanpa ruang aman untuk mengekspresikan diri, dan tanpa kehangatan keluarga yang utuh.
Hidup bersama bukan orang tua kandung membuatnya selalu merasa harus berhati-hati.
Takut berbuat salah, takut berbicara, takut bermimpi terlalu tinggi.
Apalagi setelah orang tuanya bercerai, perhatian yang ia harapkan tak pernah benar-benar ia rasakan.
Mentalnya kerap goyah, namun di balik semua keterbatasan itu, Seranitha menyimpan satu hal yang tak pernah padam: mimpi.
Mimpi-mimpinya sering ditertawakan. Ia dianggap terlalu berlebihan, terlalu menghayal, terlalu tinggi menatap langit.
Tapi justru dari sanalah ia belajar bertahan. Dalam sunyi dan keterbatasan, Seranitha mulai membangun dirinya sendiri.
Saat kuliah, kondisi ekonomi keluarga memaksanya untuk tidak bergantung pada siapa pun.
Ibunya seorang ibu rumah tangga, dan perceraian orang tua membuat keadaan semakin sulit.

Ia pun memilih bekerja sambil kuliah. Berawal dari tinggal bersama paman yang memiliki usaha cenderamata tenun ikat NTT, setiap pulang kampus Seranitha membantu berjualan. Dari sanalah jiwa usahanya tumbuh.
Keuntungan dari berjualan cenderamata ia putar kembali sebagai modal usaha kosmetik, haircare, dan bodycare.
Produk-produk itu bahkan menembus pasar Timor Leste dan dipasarkan aktif melalui grup Facebook.
Pada tahun 2015, sebagai mahasiswa, ia mampu menghasilkan Rp7–8 juta per bulan, angka yang sangat besar pada masanya.
Dari penghasilan itulah ia membantu ibunya membiayai kuliah dan memenuhi kebutuhan hidup.
Namun perjuangan itu tak tanpa konsekuensi. Nilai akademiknya sempat menurun karena fokusnya terbagi.
Tapi pengalaman tersebut justru membentuk karakter tangguh dan mental mandiri yang kelak menjadi fondasi hidupnya.
Hingga hari ini, meski telah berstatus sebagai ASN, Seranitha tak pernah meninggalkan dunia usaha.
Baginya, bisnis bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan bentuk kemandirian.
Ia pernah merintis usaha masker wajah organik berbahan daun kelor, kunyit, dan kopi, produk yang disukai banyak orang. Sayangnya, karena belum memiliki izin BPOM, usaha itu terpaksa dihentikan.
Suka duka pun berjalan beriringan. Sisi manisnya, karena telah berusaha sejak 2014, namanya sudah dikenal sehingga pemasaran relatif lebih mudah.
Sisi sulitnya, sebagai ASN, ia harus pandai membagi waktu.
Hari-harinya diisi kerja kantor hingga sore, lalu mengurus usaha dari pukul enam malam hingga tengah malam.
Akhir pekan dan hari libur pun dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Perjalanan hidupnya semakin menantang ketika ia dipindahkan ke kecamatan terpencil.
Akses ke kantor harus melewati hutan dan menyeberangi kali. Saat musim hujan dan arus sungai deras, ia tak bisa berangkat bekerja.
Namun dari keterbatasan itu, ia kembali belajar melihat peluang.
Waktu di rumah ia manfaatkan untuk mengelola usaha, meski sang suami turut membantu, semua tetap ia pantau dengan cermat.
Di balik seluruh perjuangan itu, Seranitha menggantungkan hidupnya pada iman.
Harapan dan doanya sederhana namun dalam: keluarga yang harmonis, karier dan usaha yang diberkati, rezeki yang halal, kesehatan yang terjaga, serta hubungan sosial yang saling menguatkan.
Ia percaya, setiap langkah hidupnya berada dalam penyertaan Tuhan.
“Sehelai rambutku pun tak akan terjatuh tanpa seizin Tuhan,” tulisnya.

Baginya, keterpurukan bukan hukuman, melainkan proses pembentukan.
Ia yakin, suatu hari nanti, manusia akan bersyukur atas luka yang pernah mereka bawa.
Seranitha adalah potret nyata bahwa seseorang bisa lahir dari keadaan yang tidak ideal, dibesarkan tanpa kehangatan keluarga yang utuh.
Bahkan ditempa oleh mental yang rapuh, namun tetap tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan penuh syukur.
Karena pada akhirnya, bukan keadaan yang menentukan siapa kita, melainkan bagaimana kita menjaga diri, iman, dan mimpi, meski dunia tak selalu ramah.
Source image: nitha












