Nosel.id Jakarta- Sejak usia enam tahun, Senna Cova atau disapa Senna sudah diajak orangtuanya merantau dari Lombok dan berpindah-pindah di Pulau Sumatera.
Sejak kecil, ia terbiasa memahami keadaan, hidup sederhana, tidak banyak meminta, dan belajar mandiri lebih cepat. Namun, perjalanan itu membuatnya tidak begitu memahami arti “rumah”.
Pada 2017, Senna kembali ke Lombok dan melanjutkan sekolah. Ketika duduk di kelas 2 SMP, sang Ayah kembali merantau ke Kalimantan Timur dan kemudian hilang tanpa kabar.
Sang ibu akhirnya kembali bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. Keadaan keluarga membuatnya harus memahami banyak hal yang seharusnya belum menjadi beban anak seusianya.
Ia sempat bersekolah di MAN dan bahkan berhasil mewakili sekolah dalam kompetisi pidato nasional di Surabaya.
Meski gagal menjadi juara, Senna mendapat pelajaran bahwa berani sampai ke titik tersebut saja sudah merupakan sebuah pencapaian.
Namun, persoalan keluarga kembali menjadi titik terendah dalam hidupnya. Pada 22 Oktober 2024, ia merasa begitu hancur, sepi, dan kehilangan harapan.
Setelah berdiskusi dengan guru BK, ia akhirnya memutuskan keluar dari sekolah dan melanjutkan pendidikan melalui Paket C dengan sistem e-learning.
Sambil sekolah, Senna bekerja part-time dan mengajar di playgroup. Dari penghasilan yang dikumpulkan, pada Desember 2024 ia memberanikan diri merantau seorang diri ke Bali tanpa bantuan finansial dari siapa pun.
Di Bali, ia tetap sekolah sambil bekerja dan mulai banyak merefleksikan dirinya. Ia belajar memahami apa yang diinginkan, dibutuhkan, serta kapan harus berani mengambil keputusan.
Di perjalanan itu pula, Senna merasa semakin dekat dengan Tuhan dan dipertemukan dengan orang baik yang memberinya kesempatan bekerja hingga akhirnya menjadi pekerja kontrak.
Ia menyadari bahwa usia bukan penentu kedewasaan dan tanggung jawab. Baginya, tidak ada yang kebetulan dalam hidup; setiap kesempatan bisa menjadi perpanjangan tangan Tuhan.
Keputusan mengambil Paket C dan merantau ke Bali menjadi salah satu keputusan terbesar yang tidak pernah ia sesali.
Ia belajar bahwa mandiri bukan berarti harus melakukan semuanya sendiri, tetapi berani bertanggung jawab atas pilihan sekaligus mampu menerima bantuan ketika Tuhan menghadirkan orang yang tepat.
Kini Senna memahami bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke suatu tempat. Terkadang, pulang berarti kembali mengenal diri sendiri dan menemukan kedamaian di dalamnya.
Pesannya untuk anak muda yang sedang berjuang:
“Nekatlah, tetapi iringi dengan tanggung jawab. Kita mungkin tidak bisa memilih dari mana kita memulai, tetapi kita masih punya kesempatan untuk menentukan ke mana kita akan pergi.”
Keluarga boleh tidak sempurna, ekonomi boleh terbatas, dan hidup boleh terasa rapuh. Namun, keadaan hari ini bukan keseluruhan identitas kita.
Selalu ada kesempatan untuk memilih langkah berikutnya dan mengubah arah kehidupan.
Source image: Senna Cova
