Nosel.id Jakarta- Di kota Cianjur, Jawa Barat, Salma Awalya atau disapa Salma tumbuh dengan satu pengalaman yang paling membekas: kesempatan menjadi fast learner di dunia keguruan.
Bukan sekadar mempelajari teori mengajar, tetapi merasakan sendiri bagaimana membimbing siswa yang awalnya “tidak bisa” menjadi “bisa”.
Dari sanalah ia memahami bahwa mengajar bukan hanya pekerjaan, melainkan ketulusan untuk melihat orang lain berkembang.
Setelah menapaki jalan sebagai pendidik, kehidupan Salma mengalir ke babak baru.
Ia kini bekerja di pemerintahan sebagai protokoler, sebuah tugas yang menuntut ketelitian, kesiapan, dan kemampuan berinteraksi dengan banyak pihak.
Aktivitasnya padat, namun ia menjalaninya dengan penuh tanggung jawab karena setiap peran baginya adalah bentuk pengabdian.
Di tengah kesibukan, Salma mencoba merawat hobi lamanya: membaca buku.
Belakangan ia mengakui waktu semakin sulit dibagi, tetapi kecintaannya pada membaca tetap ada.

Ia percaya bahwa buku adalah cara sederhana untuk memperluas pandangan dan memperkaya batin, meski hanya beberapa halaman di sela waktu luang.
Tentang harapan hidup, Salma merangkumnya dengan indah. Ia ingin segala proses yang kini ia tekuni mengantarkan pada hasil yang luar biasa.
Namun lebih dari itu, ia memohon kecukupan dari Allah, kecukupan yang membuat hati tidak gelisah dan hidup selalu dipenuhi rasa syukur.
“Karena sejatinya manusia harus bersyukur,” ujarnya, “agar hidupnya tenteram.”
Di balik langkahnya, Salma memiliki prinsip yang ia genggam kuat:
“Hidup itu bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memberi dan berbagi.”
Itulah nilai yang ia bawa dalam setiap peran sebagai pendidik, sebagai pelayan masyarakat, dan sebagai pribadi yang terus belajar menjadi lebih baik.
Perjalanan Salma dari Cianjur menunjukkan bahwa pengabdian lahir dari hati: dari keinginan membuat perubahan kecil pada orang lain, hingga kemampuan merawat syukur dalam setiap fase kehidupan.
Source image: Salma















