Nosel.id Jakarta- Sahara Zar tumbuh dari keluarga sederhana di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Anak pertama dari tiga bersaudara perempuan ini mengenang masa kecilnya dengan tawa, penuh dinamika khas kakak-adik, kadang seperti “Tom & Jerry”, namun selalu dilandasi rasa saling sayang dan kebersamaan keluarga yang hangat.
Dari rumah sederhana itulah, karakter Sahara terbentuk: mandiri, berani, dan pantang menyerah.
Tahun 2013 menjadi titik balik hidupnya. Setelah lulus SMA, Sahara memutuskan merantau ke Bali.
Di Pulau Dewata, ia memulai perjalanan sebagai model fashion, guru catwalk, sekaligus membantu mentornya membangun sebuah agensi modeling bernama BIMA Management.
Dunia modeling bukan sekadar panggung baginya, tetapi ruang belajar tentang disiplin, profesionalisme, dan kepercayaan diri.
Tiga tahun kemudian, Sahara melangkah lebih jauh. Ia pindah ke Jakarta dan bergabung dengan agensi model di ibu kota.

Tak hanya itu, ia juga sempat terjun ke dunia PR di industri F&B.
Pengalaman lintas bidang ini memperkaya perspektif Sahara, hingga akhirnya kini ia fokus sebagai konten kreator, sembari perlahan mewujudkan mimpi besarnya: memiliki sekolah model dan agency modelling sendiri di Jakarta.
Menariknya, Sahara tak hanya berkarya di dunia fashion. Ia juga membawa cita rasa kampung halaman ke perantauan lewat usaha kuliner Masakan Mama Nimu yang ternyata dinamai dari ibunya sendiri.
Dengan menu khas Kalimantan seperti ikan asin tenggiri asam pedas, Sahara ingin mengobati rindu para perantau Kalimantan di Jakarta.
Tak disangka, masakan tersebut juga disukai oleh banyak pelanggan dari luar Kalimantan. Sebuah bukti bahwa kehangatan rumah bisa menjelma peluang usaha.
Dalam dunia modeling, Sahara menemukan kepuasan yang tak tergantikan. Baginya, kebahagiaan terbesar bukan hanya tampil di panggung, tetapi melihat orang lain bertumbuh.
Ia bangga ketika murid-murid yang dulu bukan siapa-siapa di dunia modeling, kini mampu melangkah percaya diri di berbagai fashion show besar dan membawakan karya desainer ternama seperti Anne Avantie, Ivan Gunawan, Danjyo Hiyoji, hingga Toton Januar.
Dari nol hingga menjadi “something”, proses itulah yang memberi makna.
Namun, jalan ini tentu tak selalu mulus. Masih banyak stigma yang melekat, bahwa menjadi model itu mudah, cukup bermodal cantik dan lenggak-lenggok.
Padahal di balik gemerlap panggung, ada tuntutan menjaga tubuh, bangun subuh untuk gladi resik, menghafal blocking, dan disiplin tinggi.
Sahara juga menyoroti pandangan miring tentang sekolah model, yang kerap dianggap tidak penting.
Baginya, sekolah model justru mengajarkan banyak hal esensial: cara berjalan dan berbicara yang baik, etika, kepercayaan diri, hingga sikap profesional yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Soal menikmati hidup, Sahara punya prinsip sederhana namun dalam. Ia memilih menjadi dirinya sendiri.
Pernah berada di fase membandingkan diri dengan orang lain, Sahara mengakui betapa menyakitkannya hal itu.
Kini, ia lebih memilih membandingkan dirinya hari ini dengan versi dirinya kemarin sebagai bahan evaluasi dan pertumbuhan.
Olahraga, merayakan pencapaian kecil, dan bersikap baik pada diri sendiri menjadi kunci hidup yang lebih “enjoyable”.
Harapannya pun sederhana namun tulus: kesehatan untuk dirinya dan orang-orang tercinta, kelancaran karier, serta kemudahan dari Allah dalam setiap langkah.
Ia ingin ibunya selalu sehat, adik-adiknya lulus dengan hasil terbaik, dan teman-temannya diberi jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi.
Di tengah masih kuatnya stigma tentang standar kecantikan kulit harus putih, rambut harus panjang Sahara berdiri dengan caranya sendiri.

Rambut bondol dan kulit tanned tak menghalanginya untuk percaya diri dan berkarya.
Ia pun meninggalkan pesan kuat bagi para pembaca di seluruh Indonesia:
“No single standard defines beauty. Every woman shines in her own way.”
Sebuah pesan sederhana, jujur, dan relevan bahwa kecantikan sejati lahir dari keberanian menjadi diri sendiri.
Source image: Sahara












