Nosel.id Jakarta- Makassar bukan sekadar kota kelahiran bagi Rori Wulansari.
Kota pesisir ini adalah ruang tumbuh, tempat kenangan, sekaligus sumber energi yang membentuk perjalanan hidup dan kariernya.
Lahir dan besar di Makassar, Rori menyimpan banyak memori masa kecil yang lekat dengan laut, tentang pantai, semilir angin, serta waktu sederhana bersama kedua orang tuanya.
Bagi Rori, kedekatan dengan pesisir bukan hanya lanskap, tetapi core memory yang terus hidup hingga kini.
Ditambah kekayaan kuliner Makassar yang selalu membuat rindu, kota ini menjadi rumah yang sulit ditinggalkan, bahkan ketika langkah harus membawa pergi ke tempat lain.

Ketertarikan Rori pada dunia suara bermula sejak kecil, di masa kejayaan televisi dan radio.
Cita-citanya sederhana namun kuat: menjadi seorang announcer. Namun seperti banyak perjalanan hidup lainnya, pintu karier itu terbuka dari sebuah ajakan.
Tahun 2008, seorang teman mengajaknya mengikuti pemilihan announcer sekolah di Prambors lewat program DJ KAMOE.
Dari titik itulah, Rori mulai jatuh cinta pada dunia siaran, pada mikrofon, kata-kata, dan kemampuan suara untuk menjangkau banyak orang.
Setelah menamatkan pendidikan, Rori kembali mendekati dunia yang ia cintai dan menekuni profesi announcer secara serius.
Perjalanan kariernya sempat terhenti selama lima tahun ketika ia memilih fokus membersamai anaknya.
Sebuah jeda yang bagi Rori bukan kemunduran, melainkan fase penting kehidupan.
Hingga akhirnya, ia kembali dipercaya sebagai announcer di iRadio Makassar, yang kini bertransformasi menjadi iSwara Makassar, menandai babak baru dalam perjalanan profesionalnya.
Bagi Rori, bekerja di dunia penyiaran adalah tentang kesenangan yang lahir dari passion. Pekerjaan ini terasa begitu menyatu, hingga sering kali membuatnya lupa waktu dan lupa lelah.
Namun di balik itu, ia belajar satu hal penting: memahami batas. Menurutnya, banyak orang keliru membedakan antara keinginan untuk berhenti dan kebutuhan untuk jeda.
Padahal, jeda bukanlah akhir. Jeda adalah ruang untuk bernapas, mengenali diri, dan kembali dengan versi yang lebih segar dan utuh.
Harapan Rori sederhana namun mendalam. Ia berharap hal-hal baik terus menghampiri, rezeki datang dari berbagai arah.
Setiap langkah dimudahkan, dan pada akhirnya semua orang dipertemukan dengan kebahagiaan yang pasti. Sebuah doa yang lahir dari perjalanan, bukan sekadar angan.
Pesan yang selalu ia pegang pun terasa jujur dan relevan:

Sometimes you just need to find yourself first. There’s no one really understand you except yourself.
Bagi Rori, mengenal diri sendiri adalah fondasi untuk tetap waras, bertumbuh, dan setia pada jalan hidup yang dipilih.
Dari Makassar, Rori Wulansari terus bersuara, bukan hanya lewat mikrofon, tetapi juga lewat cerita tentang keberanian mengambil jeda, merawat passion, dan pulang pada diri sendiri.
Source image: rori












