Rizka Febri, Setiap Orang Punya Garis Start dan Tanjakan yang Berbeda !

Nosel.id Jakarta- Kabut dingin di puncak pegunungan Pacitan bukan sekadar cuaca; ia adalah aroma masa kecil yang menetap abadi di ingatan.

Di sanalah pagi hari tidak pernah dimulai oleh dering alarm ponsel, melainkan oleh ciutan burung yang saling bersahutan dan kepulan asap tungku dari dapur kayu.

Saya tumbuh di antara rumah-rumah yang pintunya nyaris tak pernah tertutup, tempat setiap tetangga adalah saudara, dan setiap kesulitan dihadapi bersama dalam keguyuban yang tulus.

Di desa itu, saya belajar makna kebersamaan, kerja keras, dan kesederhanaan, nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi hidup saya.

Namun, seperti roda yang terus berputar, hidup adalah perjalanan yang harus terus dikayuh, meski kadang meninggalkan kenyamanan.

Saat usia sekolah tiba, saya harus melambaikan tangan pada sunyinya gunung.

Kami pindah ke Ngawi, sebuah kabupaten di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Perpindahan itu bukan hal mudah bagi seorang anak desa.

Dunia terasa lebih riuh, orang-orang baru datang silih berganti, dan ritme hidup berjalan lebih cepat.

Namun justru di sanalah sebuah cita-cita tumbuh kuat dan mengakar dalam hati: saya ingin menjadi Polisi Wanita: Polwan.

Impian itu bukan sekadar keinginan, melainkan panggilan untuk mengabdi. Jalan menuju seragam cokelat Polri jauh dari kata mulus.

Ada peluh yang jatuh di lapangan latihan, ada keraguan yang datang di tengah kelelahan, dan ada beban mental yang harus dipikul saat hasil belum sebanding dengan usaha.

Namun di balik setiap langkah yang terasa berat, ada doa orang tua yang tak pernah putus dan keyakinan bahwa Tuhan selalu membuka jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Hari itu akhirnya tiba. Saya berdiri tegap mengenakan seragam Polri.

Bukan sekadar simbol profesi, melainkan amanah besar untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Dunia kepolisian membuka cakrawala yang lebih luas dari yang pernah saya bayangkan.

Di tengah dinamika tugas sebagai anggota Polantas, saya menemukan ruang untuk tetap menjadi diri sendiri.

Hobi bersepeda, yang awalnya hanya cara sederhana melepas penat dan mencari keringat di akhir pekan, perlahan berubah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya.

Kayuhan demi kayuhan membawa saya ke arah yang tak pernah terlintas sebelumnya.

Siapa sangka, anak desa dari pegunungan Pacitan ini suatu hari bisa berdiri di panggung internasional? Tahun 2025 menjadi titik yang sangat mengharukan dalam perjalanan karier dan hidup saya.

Mengenakan atribut Polri, saya mewakili institusi dan negara di ajang bergengsi World Police and Fire Games (WPFG) 2025 di Amerika Serikat.

Di sana, bersepeda bukan lagi sekadar hobi. Ia menjadi bahasa pengabdian lain, cara saya membuktikan bahwa profesi tidak membatasi prestasi, dan bahwa disiplin serta konsistensi dapat membuka pintu ke panggung dunia.

Tentu, membagi waktu sebagai anggota Polantas dan atlet bukan perkara mudah.

Di saat banyak orang menikmati akhir pekan, saya justru harus berjibaku dengan aspal untuk berlatih, itu pun jika tugas kedinasan sedang tidak memanggil.

Konsistensi menjadi tantangan terbesar, karena seragam dinas tetap harus menjadi prioritas utama.

Namun saya bersyukur berada di institusi yang tidak memangkas sayap anggotanya, melainkan memberi ruang untuk terbang lebih tinggi dan berprestasi.

Kini, di setiap kayuhan pedal dan di setiap detik pengabdian di jalan raya, doa saya tetap sederhana.

Saya ingin hidup yang seimbang: karier yang bertumbuh, keluarga yang hangat, ekonomi yang mapan, dan kesehatan yang terjaga.

Saya ingin menempatkan diri dengan porsi terbaik di mana pun saya berada, sebagai aparat negara, atlet, dan manusia biasa.

Karena bagi saya, hidup sejatinya adalah soal keseimbangan.

Persis seperti mengayuh sepeda di tanjakan tajam: berhenti berarti jatuh, dan satu-satunya pilihan adalah terus bergerak maju.

Setiap orang punya garis start dan tanjakan yang berbeda. Fokuslah pada kayuhanmu sendiri, hargai setiap peluh yang jatuh, dan jangan biarkan keberhasilan orang lain memudarkan rasa syukurmu.

Karena prestasi terbaik adalah saat kita mampu melampaui diri kita yang kemarin, tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain.”

 

 

 

Source image: Rizka Febri

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *