Nosel Jakarta- Sosok balik layar yang menginspirasi satu ini sudah populer dan namanya sangat akrab untuk kawan-kawan alumnus Bulaksumur UGM Yogyakarta, UI Depok, teman-teman senator Senayan dan ASN struktural atau secara luas di lingkup paara analis, akademisi dan anggota di Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia ( AAKI).
Drs. Riyadi Santoso, alumni UGM angkatan 1983 ini memulai dengan proses kesabaran dan ketekunan dalam mempelajari kecabangan ilmu sosial, khususnya di bidang Administrasi Negara. Selepas dari UGM, ia sempat menjadi dosen di beberapa kampus di Bekasi dan Jakarta sembari mendarmabaktikan dirinya di Kesekretariatan Jenderal DPR RI.
Ditempa dari muda, terlahir dari keluarga besar pensiunan tentara, tentu tempaan kedisplinan, rajin belajar dan kesederhanaan serta tak memilih kawan dalam persahabatan ini menjadikan Riyadi tatkala menjalani pendidikan dasar hingga perguruan tinggi menjadi supel dan mempunyai banyak kawan.

Riyadi bersama kolega: Prof Eko Prasojo, Dr Mukti Rahadian dll.
Ia selama kuliah aktif di Komunitas Salahuddin UGM bersama KH Yahya Staquf, Priyo Budi Santoso dkk membuat dinamika komunitas ini bergeliat, juga turut serta menjadi panitia dan seminar di fakultasnya.
Lantas saat menjadi dosen dan bekerja di Kesekjenan DPR RI dan AAKI juga sama, ikut merumuskan agar kampus yang ia ampu menjadi panutan atau role model terkini akan kebijakan publik.
Di Senayan yang tak terasa sampai penghujung 2022 ini pengabdiannya sudah dijalani selama 31 tahun banyak suka dan duka Riyadi alami. Tetapi yang paling utama ia mampu untuk sumbangsihkan ilmunya untuk centrum demokrasi di negara terbesar di dunia, nusantara yang dicintainya ini.
Dalam bidang pekerjaan di Kesekjenan, ia sudah melahap apapun itu yang berkaitan dengan tugas-tugas di kesekretariatan seperti koordinasi penyusunan program, pembinaan, perumusan kebijakan dan kegiatan yang secara umum untuk mendukung secara penuh dan jadi tim supporting system agar tugas dan fungsi secara kelembagaan DPR RI bisa berjalan sesuai standarnya.
Riyadi mengenang banyak kawan-kawan, juga guru yang sampai sekarang ikut untuk menguatkan dan dirinya mampu bersetia di bidang analisa dan kebijakan publik.
Diantara para guru dan kawan karibnya sebut saja ada Prof. Dr. Soffian Effendi, Ibu Sri sebagai Sekjen DPR RI perempuan pertama dan koleganya seperti Dr Trubus Rahadiansyah, Dr Totok Hari Wibowo, Drs. Dwi Wahyu Atmaji, Prof Eko Prasojo, Dr Mukti Rahadian dan banyak lainnya dimana tak bisa disebutkan satu persatu.

Lanjut membahas kelahiran AAKI, Riyadi menambahkan bahwa AAKI ialah organisasi profesi yang menjadi wadah para analis kebijakan di Indonesia untuk bekerjasama dan untuk mengembang kapasitas serta peran yang lebih berguna dan berkualitas. AAKI ia dirikan bersama kawan-kawan aktor utama atau pakar kebijakan publik di tanah air.
Lahirnya AAKI sebagai “kebutuhan” bagi para analis kebijakan di Indonesia, yang merupakan negara demokrasi yang semakin maju menuju kejayaan bangsa dan negara di tengah pergaulan internasional. Sangat disadari bahwa “kualitas kebijakan” menjadi sangat strategis dan peran para analis kebijakan sangat diharapkan untuk menghasilkan dan mengawal implementasi kebijakan yang berkualitas.
Selain kegiatan formal, pekerjaan dan semua yang berkaitan dengan analisa dan kebijakan publik, ia masih bisa memanfaatkan waktu kosongnya untuk melakukan hobi jalan pagi, dan juga tidak tidak ketinggalan untuk menghadiri acara semalam suntuk pagelaran wayang kulit yang ia sukai sejak kecil.
Juga ia tak segan untuk membaur dalam silaturahmi persaudaraan keluarga sekolah, desa dan paguyuban lainnya.
Tidak ada sekat, tidak ada pembeda pangkat, jabatan dll. Inilah yang ditanamkan oleh keluarganya sejak kecil. Bersama-sama untuk memupuk silaturahmi, menguatkan simpul dan membesarkan manfaat atau sumbangsih yang dapat diberikan untuk negara. Inilah pesan dari mendiang ayahanda Riyadi Santoso yang mampu jadikan ia menjadi seperti sekarang ini.
source photo: Riyadi, Kagama.






