Rita Apolonia Ngodhu, S.M: Dari Kota Kabut Bajawa, Merajut Mimpi Lewat Ketekunan dan Doa

Nosel.id Jakarta- Di balik dinginnya udara dan kabut yang hampir setiap hari menyelimuti Kota Bajawa, Nusa Tenggara Timur, tumbuh seorang perempuan muda dengan semangat hangat yang tak pernah padam.

Rita Apolonia Ngodhu yang akrab disapa Tanti dibesarkan di lingkungan yang penuh persaudaraan, di mana keramahan bukan sekadar sikap, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bajawa, dengan segala kesederhanaannya, membentuk Tanti menjadi pribadi yang kuat, hangat, dan penuh rasa syukur.

Sejak kecil, ia telah mengenal arti keluarga sebagai rumah yang sesungguhnya, tempat pulang yang selalu dipenuhi cinta. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi dalam setiap langkah hidupnya.

Perjalanan Tanti membawanya hingga ke Yogyakarta, tempat ia menempuh pendidikan tinggi di bidang manajemen.

Ia berhasil menyelesaikan studinya dan diwisuda pada September tahun lalu, sebuah pencapaian yang tentu menjadi kebanggaan tersendiri, baik bagi dirinya maupun keluarganya.

Namun seperti banyak anak muda lainnya, realitas setelah lulus tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan tetap di bidang yang sesuai dengan keahliannya belum juga terwujud. Di titik itu, Tanti memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.

Ia justru bangkit, berpikir ulang, dan mencari jalan lain agar tetap bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Dengan modal yang sangat terbatas, ia memulai bisnis online.

Ia menjual fashion wanita, sekaligus memperkenalkan kain tradisional khas Bajawa yang ia buat sendiri secara manual, sebuah bentuk kecintaan pada budaya sekaligus upaya untuk melestarikannya.

Tak berhenti di situ, Tanti juga aktif mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan untuk terus mengasah kemampuan diri, sembari tetap konsisten mengirimkan lamaran pekerjaan.

Perjalanan bisnisnya tidak selalu mudah. Di awal, ia hanya mampu menjual sekitar 25 produk.

Barang dagangannya pun masih tersusun seadanya, bahkan berserakan di lantai ruang tamu kecil rumahnya. Namun, perlahan tapi pasti, kerja kerasnya mulai menunjukkan hasil.

Kini, ia mampu menyimpan stok hingga lebih dari 150 produk. Ruang tamu kecil yang dulu sederhana kini mulai tertata dengan etalase dan gantungan pakaian.

Meski belum memiliki toko fisik, perubahan itu menjadi bukti nyata dari proses panjang yang ia jalani dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Bagi sebagian orang, pencapaian itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi Tanti, itu adalah langkah besar—sebuah kemenangan atas rasa ragu, keterbatasan, dan tantangan hidup yang tidak mudah.

Di balik semua usahanya, Tanti menyimpan harapan yang sederhana namun penuh makna.

Ia ingin mendapatkan pekerjaan tetap sesuai impiannya, mengembangkan bisnisnya hingga memiliki butik sendiri, mencukupi kebutuhan hidup, menabung untuk masa depan, dan yang paling utama, membahagiakan kedua orang tuanya.

Ia juga tak pernah lupa untuk terus mendoakan kesehatan dan kemudahan bagi dirinya dan keluarga.

Melalui perjalanannya, Tanti ingin menyampaikan pesan bagi generasi muda di seluruh Indonesia: jangan pernah memelihara gengsi.

Mulailah dari apa yang ada, sekecil apa pun itu. Tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan jujur dan penuh integritas.

Ia percaya bahwa mimpi besar tidak datang secara instan. Semua berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Maka, ketika impian belum tercapai, bukan berarti harus berhenti, justru saatnya untuk terus melangkah, berusaha, dan memperkuat doa.

Kerja keras yang dibarengi doa tidak akan pernah mengkhianati hasil,” menjadi prinsip yang ia pegang teguh.

Sebuah nilai yang ia rangkum dalam satu kalimat sederhana namun dalam makna: Ora et Labora, berdoa dan bekerja.

Dari kota kecil yang diselimuti kabut, Tanti sedang menenun masa depannya dengan harapan, keberanian, dan keyakinan.

Dan seperti kabut yang perlahan menghilang saat matahari terbit, ia percaya bahwa suatu hari nanti, jalan hidupnya pun akan menjadi semakin terang.

 

Source image: tanti