Nosel.id Jakarta- Tasikmalaya selalu punya cara sendiri untuk membuat orang jatuh cinta.
Kota yang sejuk, nyaman, dan dengan gaya hidup yang tidak tergesa, di sanalah Resya Nabila tumbuh.
Lingkungan yang tenang ini secara perlahan membentuk pribadinya: sederhana, aktif, dan dekat dengan keseimbangan hidup.
Sejak 2022, olahraga bukan sekadar rutinitas bagi Resya, melainkan bagian dari identitas dirinya.
Ia dikenal sebagai coach dan instruktur senam trampoline, sebuah olahraga yang menuntut energi, fokus, dan kekuatan fisik. Hari-harinya hampir selalu diisi dengan aktivitas fisik.
Pagi, siang, sore trampoline; malam ditutup dengan badminton atau bersepeda. Berkeringat adalah kebahagiaan, dan bergerak adalah cara Resya merayakan hidup.
Tahun 2025 menjadi titik paling sunyi sekaligus paling berat.
Sebuah kecelakaan membuat Resya mengalami cedera kaki yang memaksanya berhenti total dari olahraga.
Bukan hanya berhenti latihan, tapi berhenti dari sesuatu yang selama ini menjadi sumber kebahagiaan dan identitas dirinya.
Bagi seseorang yang hidupnya bertumpu pada gerak, diam terasa menyakitkan, bukan hanya di tubuh, tapi juga di kepala dan hati.

Di masa pemulihan itu, Resya belajar menerima batas.
Ia tidak memaksakan diri. Satu-satunya olahraga yang masih bisa ia lakukan hanyalah surfing, bukan untuk prestasi, melainkan sebagai terapi.
Air menjadi ruang penyembuhan, tempat ia belajar pelan-pelan berdamai dengan tubuhnya sendiri.
“Dukanya itu ketika kita benar-benar nggak bisa olahraga karena suatu hal. Rasanya mumet, stres,” begitu ia menggambarkan masa itu.
Tapi dari titik terendah, Resya justru menemukan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekuatan fisik: kesadaran akan diri sendiri.
Menjelang akhir 2025, perlahan ia bangkit. Tidak terburu-buru, tidak memaksa. Dimulai dari lari ringan dan bersepeda setiap pagi.
Latihan fisik sederhana, sekadar membangun kembali kepercayaan pada tubuhnya.
Bagi Resya, ini bukan soal kembali seperti dulu, tapi tentang maju dengan versi diri yang lebih bijak.
Tahun 2025 juga mengajarkan hal lain: tentang manusia dan relasi. Dalam kondisi yang tidak baik, Resya justru bisa melihat siapa saja yang benar-benar peduli.
Ia belajar memfilter pertemanan, bukan dengan amarah, tapi dengan kesadaran. Tidak semua orang harus dibawa ke perjalanan selanjutnya.
Memasuki 2026, harapannya terdengar sederhana namun penuh makna: konsisten berolahraga, diberi kesehatan, karier kembali menyala, rezeki dilancarkan, dan ekonomi membaik.
Setelah melewati tahun penuh ujian, Resya percaya bahwa bertahan saja sudah merupakan sebuah kemenangan.
Namun pelajaran terbesarnya adalah tentang mencintai diri sendiri.
Dulu, Resya adalah tipe yang selalu mendahulukan orang lain. Tak enakan, perasa, dan sering mengorbankan diri sendiri demi menjaga perasaan sekitar.
Pengalaman-pengalaman pahit itulah yang akhirnya mengubah cara pandangnya.
Ia belajar menanamkan rasa “bodo amat” pada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, bukan untuk menjadi egois, tapi untuk menjaga kewarasan.

“Ketika kita mencintai diri sendiri, hidup terasa lebih tenang dan bahagia. Dari situ kita melihat dunia dengan cara yang berbeda,” ujarnya.
Kisah Resya Nabila bukan tentang atlet yang tak pernah jatuh, melainkan tentang manusia yang jatuh, berhenti, lalu bangkit dengan cara yang lebih lembut.
Ia membuktikan bahwa kadang, kekuatan terbesar bukan pada seberapa cepat kita melompat, tapi pada keberanian untuk berhenti, pulih, dan memulai lagi, dengan hati yang lebih utuh.
Source image: resya














