Ratu, Perjalanan Hidup untuk Menjahit Luka Menjadi Kekuatan

Nosel.id Jakarta- Di balik senyum Miratul Khaeriyah, atau disapa Ratu, tersimpan perjalanan hidup yang tidak semua orang mampu jalani.

Ia lahir di Brebes dan dibesarkan oleh orangtua angkat, pasangan yang merawatnya dengan sepenuh hati sejak bayi.

Dari kedua orangtua angkat inilah Mira merasakan arti keluarga, meski dunia di sekelilingnya tidak selalu sehangat itu.

Sejak kecil, ia diperlakukan buruk oleh hampir semua kerabat keluarga angkatnya. Bukan karena perilakunya, tetapi karena statusnya sebagai “anak angkat”.

Anak-anak lain yang seusia sering mem-bully: meminta uang sebelum mau bermain, memelintir tangannya jika menolak, hingga mengucilkannya dari acara ulang tahun.

Hampir seluruh warga di sekitar rumah adalah kerabat besar keluarga itu, dan banyak dari mereka memperlakukannya dengan tidak adil sejak sebelum ia tahu arti dosa.

Sementara itu, kisah keluarga kandungnya juga tidak mudah.

Mama kandungnya menyerahkan Ratu saat masih bayi untuk menghindarkan ia dari perebutan ayah kandung karena sang ibu hanyalah istri kedua, dan sang ayah sudah memiliki istri pertama serta tiga anak laki-laki.

Sebelum meninggal saat Ratu SMA, mama kandung selalu menolak membahas Ayahnya, hanya meninggalkan satu nama yang sampai kini masih menjadi misteri: Idris.

Di tengah semua luka itu, satu hal yang selalu Ratu genggam: mimpi untuk keluar dari Brebes. Orangtua angkatnya mendukung penuh.

Setelah lulus SMA, Ratu kuliah di Semarang lalu pindah ke President University cikarang. Namun keluarga angkatnya kemudian mengalami masalah keuangan.

Tanpa banyak bicara, Ratu mengambil keputusan besar: keluar kuliah, merantau ke Jakarta, dan bekerja demi bisa mandiri serta membantu orangtuanya.

Ia mengakui banyak kesalahan masa mudanya, berbohong soal uang, soal hidupnya, soal keadaan.

Namun di balik semua itu, ia selalu menyimpan satu cita-cita yang paling mulia: ingin membahagiakan dan merawat orangtua angkatnya hingga akhir hayat mereka.

 

Dan Tuhan mengizinkan itu terjadi.

Ratu bekerja keras, merawat orangtuanya sepenuh hati.

Ia membawa mereka tinggal bersamanya di Jakarta, mengurus segala kebutuhan, bahkan memandikan dan membersihkan mereka saat sakit.

Ia membiayai operasi katarak ayahnya, memenuhi semua permintaan kecil ibunya, dan memberikan hidup layak bagi mereka di usia senja.

Ayahnya meninggal dengan bahagia di sampingnya pada awal 2024. Beberapa bulan setelahnya, sang ibu meminta pulang ke kampung.

Berat, tetapi Ratu menuruti permintaan itu yang kelak menjadi permintaan terakhir. Awal 2025 ia bercerai, dan Ibunya menyusul kepergian sang ayah.

Saat itu, hidup Ratu runtuh dalam sekejap. Pernikahannya berantakan dan ia resmi bercerai hanya seminggu setelah ibunya meninggal.

Ia kembali ke Brebes membawa semua surat-surat warisan orangtuanya lalu menyerahkannya tanpa mengambil apa pun.

Ia membuktikan pada keluarga besar yang dulu membencinya, bahwa ia tidak datang untuk merebut harta.

Semua yang ia dapatkan dari orangtuanya sudah lebih dari cukup: kasih sayang dan kesempatan hidup layak.

Namun badai tidak berhenti. Akun Instagramnya yang memiliki 306 ribu pengikut hilang.

Beberapa bulan setelah itu, ia divonis tumor. 2025 menjadi tahun tergelap dalam hidupnya.

Sempat terpikir untuk mengakhiri hidup, Ratu terselamatkan oleh satu makhluk kecil yang sangat ia cintai, kucing bernama Abu.

Kalau aku ga ada… Abu gimana?” pikirnya. Dan dari situ, ia bertahan.

Satu lagi yang membuat Ratu kuat adalah seorang laki-laki bernama Erik.

Sosok yang pernah mencintainya tulus, mendukung segala mimpinya.

Menyekolahkannya les masak di Maison Bleu dan Arkamaya agar hobinya menjadi peluang usaha, bahkan menjaga Mira saat sakit dan menghadapi operasi.

Meski akhirnya berpisah karena tembok perbedaan yang terlalu tinggi, bagi Ratu, Erik akan selalu menjadi orang yang sangat berarti.

Kini, Ratu bangkit dari puing-puing hidupnya.

Ia berkarya sebagai content creator dan mulai membangun usaha kuliner yang ia masak sendiri.

Masak adalah cintanya sejak dulu, dan sekarang ia serius mengolahnya menjadi penghasilan.

Ia menjaga tubuh lebih baik, menjaga pola makan, dan kembali percaya diri setelah sempat jatuh pada fase stres dan binge-eating saat menikah.

Bagi Ratu, bisa kembali memakai ukuran XS adalah bentuk kemenangan atas dirinya sendiri.

Sebagai content creator, Ratu justru menemukan ruang paling jujur.

Ia tidak membangun citra palsu. Merokok? Ia posting. Clubbing? Ia posting.

Hidupnya nyaris tanpa privasi, tetapi itulah dirinya otentik dan apa adanya.

Meski sering dipandang rendah karena tampilannya, Ratu tidak lagi peduli. Ia tahu nilai dirinya tidak ditentukan pakaian.

Harapannya sederhana tapi kuat:
semoga kehancuran besar di 2025 dibayar dengan kebahagiaan, kesehatan, dan ketenangan di 2026 dan tahun-tahun berikutnya.

Semoga usahanya lancar, kariernya melesat, dan ia bisa terus membantu orang lain dalam setiap langkah kecilnya.

Ratu menutup kisahnya dengan dua kalimat yang menjadi prinsip hidup:

Pakaian bukan kejahatan. Pola pikir yang menjadikannya kejahatan.”

“Kalian mungkin hanya melihat kekuranganku. Tapi tanpa kalian sadari, aku sudah menggapai cita-cita paling mulia: merawat orang tuaku sampai akhir hayatnya.”

Dan dengan itu, Ratu berdiri tegak perempuan yang pernah hancur, namun kini berdiri lebih kuat dari sebelumnya.

 

 

Source image: Ratu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *