Puput Wulan Dhary: Kerja Keras, Bandung, dan Pelajaran Tentang Ketulusan

Nosel.id Jakarta- Puput Wulan Dhary adalah sosok sederhana yang tumbuh dan berproses di Bandung, kota yang baginya “ngeunah pisan.”

Bukan hanya karena udaranya atau makanannya, tapi karena Bandung memberi ruang untuk belajar tentang hidup apa adanya: bekerja, lelah, lalu bangkit lagi.

Keputusan Puput untuk bekerja lahir dari pengalaman dan kebutuhan hidup.

Baginya, kerja bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Ada rasa lelah yang tak bisa dipungkiri, “cape euy, katanya sambil tersenyum namun di balik itu, ada kepuasan karena hasil kerja keras bisa berubah menjadi tabungan dan rasa aman untuk masa depan.

Puput percaya, setiap usaha pasti ada konsekuensinya. Suka dan duka berjalan beriringan.

Lelah adalah bagian dari proses, sementara hasilnya menjadi penguat agar tetap bertahan dan tidak mudah menyerah.

Harapannya pun sederhana dan tulus: semoga rezeki terus mengalir, kesehatan selalu terjaga, dan hidup senantiasa berada dalam lindungan Allah.

Baginya, sehat adalah nikmat paling mahal yang sering kali baru disadari saat hilang.

Namun Puput juga menangkap realita zaman dengan jujur.

Menurutnya, saat ini banyak orang tidak lagi membela apa yang benar, melainkan membela siapa yang mereka sukai atau yang memberi keuntungan bagi mereka.

Sebuah pengamatan yang sederhana, namun dalam, tentang nilai, keberpihakan, dan integritas.

Meski begitu, Puput memilih tetap berjalan di jalannya sendiri: bekerja dengan jujur, berharap dengan doa, dan menyerahkan hasilnya pada Allah.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat benar, tetapi siapa yang tetap teguh meski tidak selalu dibela.

Puput Wulan Dhary mengajarkan bahwa kerja keras, kejujuran, dan sikap apa adanya masih relevan, bahkan di dunia yang sering kali lebih ramai oleh kepentingan daripada kebenaran.

 

 

Source image: Puput

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *