Nosel Jakarta- Perkembangan mobil listrik, untuk di tanah air dalam masa mendatang dirasa cukup optimis, karena melihat dari beberapa cuplikan dan sedikit review, dimana produk-produk buatan anak negeri bisa di pakai di even dunia seperti G 20 yang dilaksanakan di Bali beberapa waktu lalu.
Indonesia juga akan masuk di masa atau era untuk tambahan new normal, dalam arti kebiasaan baru untuk semua menggunakan fasilitas atau alat yang berbasis dari tenaga listrik.
Dalam seminar seri mobil listrik yang diadakan oleh UP2M Universitas Indonesia dan didukung oleh beberapa sponsor seperti Forte, RCAVe, KMI Kordia Kota Depok, ILUNI UI sudah sangat bernas dan sarat dengan solusi serta update dari isu terkini perihal mobil listrik yang sedang massif dan berlomba dari masing-masing produsen. Baik yang sedang dalam uji prototipe dan sudah masuk di industri atau produksi secara banyak.
Narasumber pertama, Dr Feri Yusivar mengatakan bahwa adopsi masyarakat Indonesia akan penerimaan mobil listrik bisa di lihat dari beberapa indikasi dan contoh kasus.
Misalnya untuk produksi mobil listri Hyundai Ionic sudah banyak yang pesan duluan, sampai pabrikan kita katakan kewalahan. Juga ada survei dari seperseribu quotioner, ternyata 19% nya bahkan sudah memiliki kendaraan listrik, yakni berupa sepeda motor listrik, dan 3 % nya berupa mobil listrik. Ini adalah indikasi dan performa yang cukup positif.
Sedang pro dan kontra atau plus minus dari kendaraan listrik seperti, dari kelebihannya ialah irit, lalu kita bisa bersama mengurangi polusi, dan yang terakhir cepat dan tidak bising. Sedang minusnya ialah standar keselamatan yang belum paten untuk validasinya, lalu ada masalah kelistrikan dan aspek lainnya.
Lalu, Bapak Slamet dari Koorsub Ketenagalistrikan ESDM juga sedikit menambahkan dari pemerintah sudah banyak menerbitkan regulasi-regulasi yang diharapkan dapat memayungi akan industri dan kendaraan mobil listrik ini. Sedikitnya ada lima hal untuk perihal net zero emisi yaitu peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), pengurangan energi fosil, kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri, dan pemanfaatan carbon capture and storage atau ccs.
Dr. Ghany Heryana, sebagai ilmuwan dan pengusaha di bidang manufaktur dan mobil listrik menyampaikan pendapatnya bahwa industri kendaraan listrik secara umum sudah baik di luar, dan menjadi tantangan tersendiri, dan swasta karena secara supply change juga terjaga baik dan jalan. Menambahkan sebagai contoh ada Astra dengan durasi waktu produksi beberapa menit sudah siap jadi produk mobilnya. Ini artinya apa, volume dan produksi besar, juga tak lupa menyinggung bab tantangan pabrik EV dari ATPM.
Sebagai penutup, Dr Feri menambahkan bahwa secara teknologi, kendaraan listrik ini sudah cukup tinggi dan ada kesulitan dalam R & D semisal di inverternya atau komponen, jika dibidang lain kita mampu. Ada juga segi power switching dimana teknologi sudah barujuga menggunakan SIC, dimana bisa up kecepatan tinggi dan bagus di efisiensinya.














