Nindy Sarah, Waves May Break Stone, But They Shape The Human Soul.

Nosel.id Jakarta- Lahir dan tumbuh di Palembang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Nindy Sarah, atau disapa Nindy.

Meski tak memiliki darah Palembang, Ayahnya berasal dari Yogyakarta dan Ibunya dari Lampung—Palembang telah membesarkannya dengan nilai yang kuat tentang kebersamaan dan kepedulian.

Kota pempek ini dikenal dengan warganya yang ramah, terbuka, dan mudah akrab, baik kepada sesama warga lokal maupun pendatang.

Cara bicara yang terdengar tegas sering kali disalahartikan sebagai keras, padahal sesungguhnya itu adalah bentuk kehangatan khas Palembang: lugas, jujur, dan penuh niat baik.

Bagi Nindy, Palembang bukan hanya tempat lahir, tetapi rumah yang membentuk karakternya.

Di kota dengan kekayaan kuliner yang tak pernah membosankan ini, ia belajar tentang arti solidaritas dan hidup berdampingan.

Lingkungan yang saling membantu membuatnya tumbuh sebagai pribadi yang mudah beradaptasi dan terbuka pada siapa pun.

Kini, Nindy menjalani keseharian sebagai perempuan teknik yang bekerja di Jakarta, di salah satu perusahaan Danantara (BUMN), menangani sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Bidang yang mungkin terdengar teknis dan kompleks ini justru menjadi ruang aktualisasi baginya.

Ia menyadari bahwa dunia teknik memiliki lapangan kerja yang luas, meski tak jarang menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan.

Perempuan teknik kerap dianggap kuat dan tangguh, padahal di balik itu ada lelah yang jarang terlihat, pekerjaan yang seolah tak pernah selesai.

Namun, kecintaannya pada profesi membuat semua itu terasa layak dijalani. “Capeknya ada, tapi karena aku cinta pekerjaanku, aku tetap happy,” begitu prinsip yang ia pegang.

Sebelumnya, saat masih di Palembang, Nindy juga aktif di dunia event organizer dan wedding organizer, bahkan sempat bernyanyi di kafe.

Semua ia jalani bukan sekadar untuk bekerja, tetapi untuk menikmati proses dan melakukan hal-hal yang ia sukai.

Dalam hidup, Nindy tak menuntut kesempurnaan.

Harapannya sederhana namun dalam: semoga hal-hal baik terus datang untuk dirinya, keluarganya, dan orang-orang baik di sekitarnya.

Ia menyadari bahwa hidup tidak selalu ramah, kadang keras dan menyulitkan.

Namun, pesan sang ibu selalu menjadi pegangan: Tuhan tidak pernah menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Nilai itulah yang membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Bahwa setiap luka, lelah, dan tantangan bukanlah akhir, melainkan proses pembentukan diri. Seperti pesan yang ia bagikan:

Waves may break stone, but they shape the human soul. What some call privilege is often perseverance unseen.

The world may wound us, yet we choose:
to be broken by the pain, or shaped by it.”

Bagi Nindy, hidup bukan tentang seberapa keras ombak menghantam, melainkan tentang bagaimana seseorang memilih untuk bertahan, belajar, dan tumbuh menjadi versi diri yang lebih kuat dan bermakna.

 

 

Source image: nindy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *