Nosel.id Jakarta- Niken adalah sosok wanita inspiratif yang memiliki cerita hidup penuh warna. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, ia lahir di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Ayahnya, Fadly Holidi, dan ibunya, Saira, membesarkannya di lingkungan penuh kehangatan keluarga.
Masa kecil Niken di Balikpapan dipenuhi kenangan indah, terutama saat bersekolah di SD Kemala Bhayangkari 1, yang letaknya di tepi pantai.
Saat jam istirahat, ia sering bermain di pantai, bahkan menyaksikan penyu bertelur, sebuah pengalaman langka dan berharga.
Meski kini menetap di Bogor, hubungan Niken dengan teman-teman masa kecilnya tetap terjalin dengan baik.
Banyak keluarganya dari pihak ibu juga masih tinggal di Balikpapan, sehingga kota itu selalu memiliki tempat istimewa di hatinya.
Perjalanan hidupnya berubah ketika keluarganya pindah ke Bogor saat ia berusia 12 tahun.
Sejak kecil, Niken sudah menunjukkan bakat bernyanyi. Ia kerap mengikuti kompetisi antar sekolah, baik saat masih di Balikpapan maupun setelah pindah ke Bogor.
Saat menempuh pendidikan di SMPN 7 Bogor dan SMAN 8 Bogor, ia berhasil membawa pulang sejumlah piala dari lomba menyanyi.

Puncak karir bernyanyinya terjadi saat ia bertemu dengan pencipta lagu senior, Om Dadang S. Manaf.
Pada tahun 1996, Niken merilis album, kaset, dan video klip dengan lagu hits berjudul “Setulus Cintaku”, sebuah karya indah dari Om Dadang.
Lagu tersebut sempat populer dan dinikmati di televisi pada masanya. Namun, seiring waktu, Niken memutuskan untuk lebih fokus pada keluarga, terutama setelah menjadi seorang ibu.
Meski tidak melanjutkan karier bernyanyi, Niken tetap aktif di dunia kerja. Ia pernah bekerja di PT. Sari Ayu Indonesia, bidang advertising, perhotelan, hingga terakhir di Dealer Suzuki.

Di sela-sela kesibukan, ia juga menjalankan berbagai bisnis sampingan, seperti skincare, parfum, dan produk lainnya yang dipasarkan secara online.
Sebagai ibu rumah tangga, Niken menunjukkan kemampuan luar biasa dalam membagi waktu antara pekerjaan, bisnis, dan keluarga.
Baginya, suka dan duka dalam berbisnis adalah bagian dari perjalanan. Suka cita datang saat ia merasa bangga bisa mendapatkan penghasilan sendiri, memperluas relasi, dan melihat usahanya berhasil.
Namun, ia juga harus menghadapi tantangan seperti barang dagangan yang kurang laku, pembeli yang beralih, hingga kehilangan banyak waktu bersama anak-anak.
Harapan Niken sederhana namun penuh makna. Ia berdoa agar selalu istiqomah dalam berbuat baik, diberikan kesehatan, rezeki yang halal dan berkah, serta sukses yang bermanfaat bagi sesama.
Pesan hidupnya mengingatkan kita untuk menerima dan percaya pada takdir Allah. Ia berkata,
“Dengan menerima, kita memberi ruang untuk menjadi diri apa adanya.
Percaya bahwa kita tak selamanya bahagia, namun juga tak selamanya terpuruk.
Rangkul segala hal yang terjadi, karena itulah yang membentuk diri kita.”
Source image: niken














