Nosel.id Jakarta- Nay, perempuan asal Medan yang menghabiskan masa kecilnya di Kampung Tanah 600, Marelan, adalah contoh nyata bahwa perubahan bisa melahirkan passion tak terduga.
Dari pekerja travel yang sibuk, ia beralih menjadi ibu rumah tangga penuh dedikasi, lalu menemukan kecintaan pada sepeda gunung di tengah pandemi.
“Dulu, saya bahkan tak pernah membayangkan bisa menggowes tanjakan. Sekarang, tanjakan justru jadi tantangan yang bikin hidup lebih berwarna,” ujarnya sambil tertawa.
Nay tumbuh di Marelan, kawasan yang dulu dikenal sebagai kampung sejuk dengan gemericik suara jangkrik di malam hari.
“Dulu, kami bisa merasakan hawa dingin alami. Sekarang, Marelan sudah jadi bagian kota yang ramai,” kenangnya.
Meski lingkungan berubah, kenangan masa kecil itu tetap melekat sebagai bagian dari identitasnya.
Kini, ia menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga yang setia menemani suami dan satu anak, sambil menyisipkan waktu untuk petualangan bersepeda.
Sebelum menikah, Nay bekerja di industri travel. Namun, ia memilih berhenti untuk fokus mengurus keluarga.
Awalnya, olahraganya hanya terbatas pada aktivitas indoor.
Semuanya berubah saat pandemi COVID-19 melanda.
“Saya butuh udara segar dan kegiatan yang bisa melepas stres. Akhirnya, saya coba bersepeda,” ceritanya.

Awalnya, ia hanya iseng mencoba, tapi lambat laun, gowes menjadi bagian dari rutinitas hariannya.
Perjalanan Nay sebagai goweser tak mulus. Sepeda pertamanya tidak mendukung untuk medan berat.
“Saya sering kewalahan di tanjakan. Tapi, saya bilang ke diri sendiri: Kalau mau kuat, kaki ini harus dilatih!” ujarnya bersemangat.
Alih-alih menyerah, ia memutuskan upgrade sepeda dan intensitas latihan.
Kini, tanjakan bukan lagi musuh, melainkan teman yang membuat setiap perjalanan terasa bermakna.
“Gowes tanpa tanjakan itu seperti gula tanpa garam, kurang greget!” candanya.
Meski sibuk mengurus keluarga, Nay menyempatkan diri bersepeda tiga kali seminggu.
Pagi hari, setelah menyiapkan kebutuhan suami dan anak, ia menyusuri rute favorit di sekitar Medan.
“Bersepeda itu seperti me-time yang menyegarkan. Pulangnya, pikiran lebih jernih untuk urus rumah,” ujarnya.
Ia juga kerap mengajak keluarga kecilnya untuk aktivitas outdoor, menanamkan kecintaan pada alam sejak dini.
Nay berharap kesehatan selalu menyertai agar bisa terus aktif bersepeda dan mengurus keluarga.

Untuk perempuan Indonesia, ia berpesan: “Tetaplah semangat! Hidup ini penuh rintangan, tapi selama kita tidak menyerah, pasti ada jalan.”
Baginya, bersepeda adalah metafora kehidupan:
“Ada tanjakan yang melelahkan, tapi setelahnya pasti ada turunan yang menyenangkan. Nikmati prosesnya!”
Source image:nay














