Nosel.id Jakarta- Di tengah riuhnya kehidupan Jakarta, kota yang tak pernah benar-benar tidur lahirlah seorang perempuan yang sejak kecil sudah akrab dengan suara, nada, dan ritme: Nathania S. Alexandra.
Tumbuh besar di kawasan Jakarta Timur, ia menghabiskan masa kecilnya di lingkungan yang trotoarnya seperti mitos, tapi penuh cerita dan petualangan.
Jajanan sekolah, bermain sepeda, hujan-hujanan di lahan kosong, hingga mabar PlayStation sambil sesekali rebutan stik dengan teman-teman, semua itu menjadi potongan kenangan yang mewarnai hidupnya.
Di tengah kesederhanaan itu, satu hal yang paling lekat dan membentuk dirinya adalah musik.
Nathania berasal dari keluarga yang punya ”budaya playlist”.
Setiap anggota keluarga punya selera musik masing-masing, dari lagu-lagu lawas hingga musik modern.

Suasana rumah sering dipenuhi suara melodi, membuat Nathania kecil tumbuh dengan telinga yang terlatih dan hati yang terbuka.
Namun yang paling berkesan adalah momen-momen kecil bersama sang nenek.
Dengan penuh kesabaran, sang nenek mengajari Nathania bermain keyboard setiap malam, bahkan sampai harus menuliskan notasi di atas tuts dengan spidol.
Dari tangan beliau, benih kecintaan pada musik mulai tumbuh.
“Seingetku aku gak pernah berhenti mencari musik,” kenangnya.
Ia memainkan piano, gitar, ikut paduan suara, bahkan menjelajahi game-game bertema musik.
Musik bukan hanya hobi, melainkan tempat pulang.
Perjalanan bermusik tidak selalu indah. Ada masa-masa ketika Nathania merasa mimpinya menjadi musisi adalah hal mustahil.
Rasa realistis dan ketakutan bercampur menjadi satu.
Ia sempat mencoba menjauh dari musik, namun setiap kali berusaha pergi, musik selalu menariknya kembali.
“Mungkin karena bermusik, buatku, adalah bercerita.”
Saat ada orang yang merasa tersentuh, terhubung, atau menemukan dirinya dalam lagu yang dibawakan Nathania, di situlah keajaiban itu muncul.
Momen halus namun kuat. Momen di mana musik menjadi bahasa yang menyatukan tanpa perlu dialog.
Dan keajaiban itulah yang membuatnya terus bertahan.
Di balik kepribadiannya yang tenang, Nathania menyimpan keinginan besar:
Ia ingin meninggalkan sesuatu yang tetap hidup meski dirinya tidak lagi ada.
Baginya, manusia tidak abadi. Namun cerita, lagu, dan musik adalah warisan yang bisa bertahan.
Melalui karya-karyanya, ia ingin hadir sebagai teman, sebagai pengingat, sebagai pelajaran, atau sekadar serpihan sejarah yang memberikan sedikit keberkahan bagi orang lain.
Musik adalah cara Nathania meninggalkan jejak. Bukan untuk ketenaran, tapi untuk kebermaknaan.
Perjalanan menuju hal yang kita impikan tidak pernah terjadi dalam semalam dan Nathania sangat meyakini itu.

“Tetep berjalan. Karena semuanya dimulai dari satu langkah kecil, di satu hari ketika kita memutuskan untuk maju.”
Tidak semua orang akan mengerti mimpi kita. Tidak semua orang akan mendukung. Tapi selama kita percaya, selama kita bertahan, langkah itu akan membawa kita jauh.
Dan Nathania adalah bukti bahwa suara hati yang jujur, seperti musik: selalu tahu ke mana ia harus membawa kita.
Source image: Nathania









