Nosel.id Jakarta- Nadya Nunyai lahir di Kotabumi, sebuah kota yang menyimpan bagian awal perjalanan hidupnya.
Kini ia tinggal di Bandar Lampung, namun kenangan masa kecilnya tetap terpatri kuat: lingkungan yang terlalu baik untuk dilupakan, penuh cinta, penuh suara tawa, dan dipenuhi sahabat-sahabat yang mewarnai hari-harinya.
Beberapa sudah menempuh hidup baru bersama keluarganya kini, tetapi kehangatan kenangan itu tetap tinggal menjadi bagian dari siapa Nadya hari ini.
Dalam karier, Nadya seorang apoteker. Sebuah profesi yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan komitmen yang tak sedikit.
Perjalanannya menuju gelar apoteker pun penuh lika-liku yang tidak semua orang sanggup menanggungnya.
Pendaftaran apoteker yang penuh tantangan.
Lembaran proses yang membuatnya hampir menyerah.
Dan akhirnya, diterima di Universitas 17 Agustus 1945 tempat ia menempuh pendidikan profesi selama satu tahun.
Tiga bulan ia menyerap teori. Sisanya ia menjalani PKPA, masa magang yang menjadi ujian mental, fisik, dan kesabaran.
Di sana, ia merasakan susah senang bersama teman-teman baru yang kini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dukanya? Terlalu banyak untuk dihitung, seperti gonta-ganti kosan demi menyesuaikan kebutuhan, bimbingan dosen yang datang dengan berbagai revisi dan tekanan.
Dan berangkat ke tempat PKPA menembus hujan dan badai, baju basah kuyup, sepatu penuh air, ada juga kelelahan yang membuat tubuh tumbang dll.

Semua itu bukan sekadar cerita pahit itu adalah saksi bahwa perjuangan Nadya tidak pernah setengah-setengah.
Bahwa setiap langkah menuju impiannya ditempuh dengan totalitas dan keteguhan hati.
Bagi Nadya, hidup adalah perjalanan yang harus dijalani sebagaimana air mengalir. Tidak perlu tergesa, tidak perlu membandingkan diri dengan siapa pun.
Yang penting, terus berusaha. Karena baginya, tidak ada usaha yang sia-sia jika dilakukan dengan niat baik dan kesungguhan.
Ada dua hal yang selalu ia pegang yakni Ingat kepada Allah berupa senantiasa
berdoa, bersyukur, menjaga sholat yang tidak boleh ditinggalkan sebab semua kekuatan sejatinya berasal dari-Nya.
Kemudian ingat kepada orang tua.
Mereka yang membiayai, mendukung, dan setia mendoakan langkah-langkahnya hingga ia bisa berdiri sebagai dirinya hari ini.
Itulah yang membuat Nadya tetap rendah hati meski melalui banyak badai.
Tahun ini, Nadya memohon satu hal pada Tuhan: agar semua hal baik mendekat kepadanya.
Rezeki yang lapang, pekerjaan yang baik dan berkah juga jodoh yang membawa ketenangan.
Ia percaya, jika seseorang menanam kebaikan, semesta tidak akan segan mengembalikannya.
Di akhir kisahnya, Nadya meninggalkan pesan yang sederhana namun dalam:

“Selalu jadi orang baik. Jangan sombong, tetap rendah hati, dan tolonglah sesama.
Di mana pun kita berada, kita pasti butuh orang lain. Jangan pernah malu bertanya.
Kebaikan hari ini mungkin kecil, tapi suatu hari nanti kebaikan itu akan selalu diingat.”
Nadya mengingatkan bahwa menjadi orang baik tidak pernah rugi. Justru dari situlah jalan akan dibukakan, pintu akan dimudahkan, dan hati akan ditenangkan.
Perjalanan Nadya Nunyai adalah bukti bahwa mimpi bisa dicapai bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi dengan keteguhan, kesabaran, dan hati yang selalu memilih kebaikan.
Source image: Nadya










