Nosel.id Jakarta- Di Cianjur sebuah kota dengan udara sejuk, warganya halus berbicara, dan budaya ramah yang terasa seperti rumah lahirlah seorang perempuan yang tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan sejak kecil.
Muthia dibesarkan di lingkungan yang membuatnya percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya sama; yang membedakan hanyalah seberapa besar kita mau menghargai, memahami, dan bersyukur.
Masa kecilnya dipenuhi kehangatan keluarga dan tawa sederhana.
Lingkungan yang aman itu membuatnya berani bermimpi, berani mengeksplorasi, dan berani menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sekitarnya.
Nilai-nilai itu tak pernah benar-benar hilang justru menjadi fondasi dari perjalanan panjang yang ia jalani sekarang.
Kini, Muthia dikenal aktif di berbagai kegiatan mulai dari dunia kecantikan yang ia cintai, hingga organisasi dan event daerah yang membentuk kedisiplinan serta karakter kepemimpinannya.
Ia beberapa kali dipercaya mewakili daerah dalam ajang duta atau mojang, sebuah pengalaman berharga yang bukan hanya menambah prestasi, tetapi juga membuatnya lebih percaya diri.

“Kesibukan itu bukan sekadar mengejar pencapaian,” ucapnya.
“Tapi tentang menemukan diri sendiri sejauh mana kita bisa berkembang, dan sejauh apa kita bisa memberi manfaat.”
Dunia yang ia jalani mungkin berwarna, menyenangkan, dan penuh kesempatan, tapi semua itu tetap ia landasi dengan karakter lembut Cianjur yang melekat sejak kecil: tetap rendah hati, menghargai siapa pun, dan menempatkan syukur sebagai cahaya utama.
Dari dunia kecantikan yang ia geluti, Muthia menemukan medium untuk mengekspresikan seni.
Make-up baginya bukan sekadar mempercantik, tapi memberdayakan membantu perempuan lain merasa percaya diri tanpa kehilangan jati dirinya.
Ia juga mencintai travelling, menjelajahi tempat baru, bertemu orang-orang dengan latar belakang yang beragam, dan belajar melihat kehidupan dari sudut yang berbeda.
Bertemu cerita-cerita baru dalam setiap perjalanan membuatnya kaya perspektif dan menjadikannya lebih bijaksana menghadapi hidup.
Namun perjalanan ini tidak selalu mudah. Ada lelah yang tidak terlihat, waktu yang tersita, dan tanggung jawab yang menuntut kedewasaan.
Tapi semua itu terbayar ketika ia tahu bahwa apa yang ia lakukan membawa dampak positif, sekecil apa pun.
Sebagai anak kebidanan, ia tumbuh melihat bagaimana bantuan kecil dapat menjadi cahaya besar bagi orang lain.
Dari situlah tekadnya tumbuh: menjadi seseorang yang kehadirannya membawa kebaikan bagi siapa pun yang ia temui.
Harapan Muthia sederhana, tetapi penuh makna.
Ia ingin keluarganya selalu sehat, diberi umur panjang, dan tetap hangat satu sama lain.
Ia ingin kariernya terarah dan bermanfaat.
Berharap rezekinya stabil, cukup, dan penuh keberkahan, juga hidup yang sehat, hati yang tenang, dan langkah yang selalu dipenuhi kebaikan.
Dan lebih dari itu, ia berdoa agar dirinya tetap menjadi pribadi yang menghargai siapa pun tanpa memandang latar belakang karena begitulah ia diajarkan sejak kecil.
“Semoga apa pun yang saya lakukan selalu mendekatkan saya pada kebaikan,” katanya pelan.
“Bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi untuk orang-orang di sekitar saya.”
Di akhir kisahnya, Muthia ingin meninggalkan pesan bagi siapa pun yang sedang berproses:

“Hargai prosesmu, peluk syukurmu, dan jangan takut membuka diri pada dunia.
Setiap orang yang hadir dalam hidupmu membawa pelajaran kadang berupa kehangatan, kadang berupa kekuatan.”
Dan ia menambahkan sebuah kalimat yang tumbuh dari pengalaman pribadinya:
“Kita mungkin berasal dari kota kecil, tapi mimpi kita tidak pernah kecil. Selama kita tetap rendah hati dan terus berusaha, jalan akan dibukakan dengan cara yang paling indah.”
Dengan prinsip hidup yang lembut namun kuat, Muthia melangkah tanpa tergesa, membawa nilai-nilai Cianjur yang membesarkannya kerendahan hati, rasa syukur, dan keinginan untuk memberi manfaat.
Dan dari langkah-langkah itulah, ia tumbuh menjadi inspirasi bagi banyak perempuan bahwa kebaikan selalu punya tempat, sejauh apa pun kita melangkah.
Source image: muthia












