Dibulan Juli 2022, tepatnya dari tanggal 15 sampai 17, selama tiga hari berturut-turut Kabupaten Purworejo akan di helat acara yang idealnya sebagai salah satu terobosan untuk daerah yang dijadikan basis dari Kantor Badan Otorita Borobudur (BOB) ini, yakni acara Purworejo Creative Festival atau PCF 2022.
Inisiator dari PCF sendiri ialah Nungki Nur Cahyani, seorang seniman nasional yang berasal dari Kutoarjo, dan ia memanggil para kolega, atau jejaring kesenimanannya dari Surakarta seperti Heru Prasetyo dari Mataya Arts & Heritage serta Turah Hananto dari Rumah Budaya Banjarsari Surakarta.
Keduanya ialah sebagai partner, adik, kakak sekaligus sebagai guru bagi Nungki Nur Cahyani. Debut Turah Hananto di Purworejo berhasil tatkala Nungki mengadakan Safest ( Sawunggalih Art & Festival) dua kali di tahun 2018 dan 2019 yang mendatangkan seniman tari dan musik terbaik se Indonesia, serta dari lima negara dan berlokasi di venue heritage terbaik Purworejo: Stasiun Lama Purworejo.
Lalu siapa sosok Heru Prasetyo atau Heru Mataya ini?

Heru Prasetyo, atau familiar dipanggil Heru Mataya karena ia membangun sebuah organisasi jaringan kerja untuk seniman Surakarta dan sekitarnya bernama Mataya Arts & Heritage di tahun 1996. Titik tumbuh Mataya berdiri ialah pentingnya penyelenggaraan even seni dan kebudayaan di tempat umum yang memiliki nilai kesejarahan.
Karena lewat acara dan lokasi heritage ini akan terjadi komunikasi kultural, dan cara lain dalam melestarikan bangunan tersebut. Lewat Mataya Arts & Heritages, Heru mulai tahun 1996 atau tak terasa sudah seperempat abad berhasil mengelola dan menggelar beberapa festival kesenian di lingkup Kota Surakarta seperti Solo Dance Festival, Temu Koreografer Wanita, Festival Seni Pasar Kumandang, Indonesia 1000 Festival, Festival Payung Indonesia, Festival Batik, Solo Art Market dan puluhan event kebudayaan lainnya.

Heru Mataya adalah aset nasional, budayawan berdedikasi tinggi yang tidak hanya untuk Surakarta, tapi juga nusantara. Dalam helatan PCF 2022 kali ini ia bertugas untuk mengkurasi produk-produk UMKM dan seni yang ikut dalam acara berpusatkan di Alun-alun besar Purworejo ini.
Purworejo Creative Festival, PCF 2022 yang acaranya berupa perpaduan pameran dan transaksi langsung produk UMKM, dan seni yang terkurasi, serta penampilan musik dan tari ini sejatinya ialah adaptasi dari SAM atau Solo Art Market, yang merupakan legasi tangan dingin dari Heru Mataya sendiri.
SAM dilatarbelakangi belum adanya wahana yang representatif untuk seniman luki, crafter dan ratusan seniman Surakarta lainnya untuk memajang dan memasarkan langsung karyanya secara fungsional di Kota Surakarta. SAM diharapkan menjadi pusat pasar seninya Surakarta, laiknya Place du Tertre di Prancis.Konsep SAM ialah gotong royong, organisasi yang rapi serta evaluasi rutin guna menunjang keberlangsungannya.
Dan ditahun 2022 ini, tak terasa Solo Art Market atau SAM ke 13. Heru telah berhasil membumikan apa itu arti berekpresi secara sadar dan kolektif untuk menjemput mutu sekaligus sarana yang memadai untuk para seniman dan kreator.
Dan bersama Nungki Nur Cahyani, dan Turah Hananto ia di tantang sekaligus mengawal satu even “ujicoba” dan boleh dikatakan sangat “terjal” di Kabupaten yang terkenal sebagai tanah pejuang ini. PCF didukung dan kolaborasi dari empat dinas juga yaitu Dinporapar, KUKMP, Dinperintransker serta Dindikbud.
Selamat berjuang dan berkarya selalu untuk semuanya.









