Nosel.id Jakarta- Meliana, atau akrab disapa Meli, lahir di Jakarta pada tahun 1998 dari keluarga Tionghoa keturunan Hakka/Hokkian-Betawi.
Sebagai anak tunggal, ia tumbuh dikelilingi kasih sayang yang hangat, sederhana, namun sarat makna.
Meski kini berdomisili di Bogor, sebagian besar kenangan hidupnya justru tertinggal di sebuah desa sejuk dan bersih di lereng Puncak, Cipanas, Cianjur.
Di sanalah, sejak TK hingga SMK, Meli menghabiskan masa kecil dan remajanya.
Lingkungan yang asri, udara yang jernih, dan suasana keluarga yang harmonis bersama ayah dan nenek membuat masa kecilnya begitu berharga.
Desa itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah bagi tawa, pelukan, dan rasa aman yang tak tergantikan.
Di sekolah, Meli dikenal aktif dan penuh semangat.
Ia mengikuti berbagai kegiatan seperti Ekstrakurikuler Band, Marching Band, hingga menjadi bagian dari Pemimpin Divisi Kerohanian.
Ia juga pernah terlibat sebagai Duta Anti Perundungan sejak tahun 2013, suatu langkah kecil yang berdampak besar, karena ia ingin melindungi teman-teman sebayanya dari perilaku bullying.
Latar belakang pendidikannya di SMK jurusan Manajemen Bisnis membuatnya berpikir praktis dan membangun jiwa kepemimpinan sejak dini.

Bahkan, dunia kreatif pernah ia jelajahi: Meli sempat belajar rekaman, mengisi waktu di studio musik, hingga menjadi asisten produser.
Walau hanya iseng meng-cover lagu, kenangan itu membekas sebagai pengalaman yang menyenangkan dan membangun rasa percaya dirinya.
Tahun 2018, Meli bekerja di sebuah perusahaan asuransi di Cianjur. Setahun kemudian, ia mencoba peruntungan di kantor di kawasan Jakarta Barat.
Hidup bertransisi, bergerak dari satu fase ke fase lain hingga pandemi Covid-19 di tahun 2020 mengubah segalanya.
Awal 2021 menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya.
Meli bekerja kembali di sebuah rumah makan Padang, membantu memasak, melayani pelanggan, dan belajar manajemen usaha langsung dari lapangan.
Di saat bersamaan, ia dan ibunya mulai merintis usaha makanan kecil-kecilan dari nol.
Tahun 2021 menjadi masa yang paling berat. Saat keluarga sedang mencoba bangkit dengan usaha kecil mereka, Ayahanda tercinta meninggal dunia akibat komplikasi asam lambung dan covid-19.
Pada momen yang sama, Meli terjangkit DBD/Covid hingga harus terbaring lemah selama seminggu, tubuhnya tak stabil, mentalnya limbung, dan semangatnya nyaris runtuh.
Duka datang bersamaan dengan sakit. Pada usia 23 tahun, ia merasa hidup memaksanya jatuh tanpa diberi jeda.
Namun dari titik terendah itulah sebuah kebangkitan justru mulai tumbuh.
Perlahan, Meli kembali pulih. Ia memilih berdiri lagi, memulai ulang langkah kecil menuju masa depan.
Bersama sang ibu, ia membangun small business homemade food secara online dan offline, bertemu pelanggan dari pintu ke pintu, berbicara, mengenalkan produk, dan memasarkan dengan sepenuh hati.
Awalnya penuh keraguan, tetapi dengan belajar, mencoba, dan terus berlatih, usaha itu mulai berjalan.
Meli percaya bahwa kunci wirausaha bukan hanya modal uang, tetapi modal keberanian, mental kuat, rendah hati, dan tidak gengsi untuk belajar dari nol.
Hari-harinya kini ia jalani sebagai seorang wiraswasta yang mandiri dan gigih.
Di tengah kesibukan bisnis, Meli tetap menyalurkan hobinya: bermain musik, memasak, makan dan kulineran, menulis serta membaca puisi, menyanyi, hingga membuat konten positif di media sosial.
Semua dilakukan bukan untuk popularitas, tapi untuk berbagi semangat bahwa setiap orang pasti bisa bangkit.
Setelah melewati badai hidup, Meli mulai menemukan ketenangan baru.
Setiap sepertiga malam, ia bangun dengan sendirinya, sebuah waktu sunyi yang menjadi ruangnya untuk bersyukur, meminta kekuatan, dan menyerahkan segala proses hidup kepada Tuhan.
Di sana ia pulih. Di sana ia menemukan kedamaian.
Melalui perjalanan panjang yang penuh suka, tawa, pahit, jatuh, dan bangkit, Meli menyadari bahwa hidup adalah proses yang tak pernah instan.
Ia berpesan kepada teman-teman, sahabat, dan siapa pun yang membaca kisahnya:

“Yang kita butuhkan tidak selalu peluang, kadang kita butuh jeda.
Kadang yang terbaik datang setelah kita berani beristirahat sejenak agar bisa kembali berlari lebih jauh.”
Meli percaya bahwa setiap orang memiliki perjalanan masing-masing. Ada yang lebih cepat bertemu impian, ada yang lambat.
Namun yang terpenting bukan siapa yang lebih cepat, melainkan siapa yang tetap melangkah.
“Biarlah pelan, yang penting pasti. Hidup adalah proses. Tak ada yang langsung jadi.”
Dan dari proses panjang itu, Meli kini berdiri lebih kuat, lebih matang, dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Yuk bisa, yuk bangkit, berjuang, dan percaya pada proses.
Source image: meli













