Nosel.id Jakarta- Meisye Thalia lahir dan tumbuh di Cimahi, kota kecil di pinggir Bandung yang sering disebut “Bandung coret”, namun justru di sanalah ia menemukan rumah, kenangan, dan fondasi hidupnya.
Sejak bayi, Meisye sudah tinggal bersama oma dan opanya yang ia panggil Mami dan Papi.
Mereka bukan sekadar orang tua kedua, tetapi sosok yang membesarkan, membentuk karakter, dan mengajarinya arti disiplin serta tanggung jawab.
Banyak orang menyebut didikan mereka sebagai gaya “VOC”, keras, tegas, dan penuh aturan. Namun bagi Meisye, itulah sekolah kehidupannya yang paling berharga.
Lewat disiplin yang “sangklek banget”, ia belajar sopan santun, ketegasan, dan bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia dewasa dengan lebih kuat.
“Aku dibentuk supaya siap dengan kehidupan yang sebenarnya,” ujarnya suatu ketika. Dan nyatanya, didikan itu benar-benar menjadi pondasi kokoh dalam perjalanan hidupnya.
Sebelum menikah, Meisye sempat bekerja di beberapa perusahaan, tetapi masa terpanjangnya dihabiskan sebagai customer service di Apartemen Parahyangan Residence.
Selama hampir empat tahun, ia belajar menghadapi berbagai karakter manusia, mengasah empati, kesabaran, serta cara mengelola emosi, keterampilan yang kelak sangat berguna ketika ia menjadi seorang ibu.

Setelah itu, Meisye bergabung dengan perusahaan internet rumah MyRepublic, masih di bidang yang sama: melayani, mendengar, dan membantu orang lain.
Sampai akhirnya kehidupan mempertemukannya dengan pasangan hidup yang mengubah seluruh arah perjalanan. Meisye memilih untuk meninggalkan dunia kerja dan memulai babak baru sebagai ibu rumah tangga.
Meisye adalah tipe perempuan yang suka sekali berjalan jauh, secara harfiah.
Jalan-jalan, wisata kuliner, menjelajahi tempat baru, mencoba makanan baru… itu kebahagiaannya.
Namun kini, setelah hadir seorang bayi kecil berusia satu tahun lebih, ritme hidupnya berubah total.
Jalan-jalan semakin jarang, sementara rutinitas rumah justru semakin padat dan berulang.
Rutinitas yang sama setiap hari mengurus rumah, menjaga anak, mendampingi suami sering membuat jenuh.
Dari yang biasanya bertemu banyak orang saat bekerja, kini dunia Meisye lebih banyak berputar di rumah.
Tidak ada orang tua yang membantu secara langsung, tidak ada jeda panjang untuk “napas”. Semua dilakukan sendiri, dan itu tidak mudah.
Namun justru di fase inilah Meisye menemukan sisi dirinya yang paling kuat.
Ia merasakan lelah, bosan, stres, tapi ia juga terus bertahan. Bukan karena segalanya mudah, tetapi karena ia percaya bahwa Tuhan selalu menolong di saat ia merasa tak mampu.
“Aku selalu merasa, setiap kali aku hampir menyerah, pasti ada saja cara Tuhan menolong.
Entah lewat orang, lewat keadaan, atau lewat hal-hal kecil yang tidak aku duga,” ungkapnya.
Dari perjalanan panjangnya—dari didikan keras masa kecil, pekerjaan yang membentuk mental, hingga menjadi ibu rumah tangga tanpa bantuan orang tua Meisye belajar satu hal penting: bersyukur.
Bagi Meisye, kebahagiaan bukan lagi tentang seberapa sering ia bisa pergi jalan-jalan, tetapi tentang bagaimana ia melihat hari-harinya dengan hati yang penuh terima kasih.
Bahwa Tuhan telah merancang hidupnya dengan sangat baik. Bahwa ia diberi keluarga, kekuatan, dan tujuan baru yang setiap harinya mengajarinya menjadi versi terbaik dari dirinya.

“Mau sedih, susah, senang, atau penuh kejutan—kalau kita bersyukur, semuanya terasa cukup dan hati jadi lebih bahagia.”
Meisye Thalia bukan sekadar ibu rumah tangga.
Ia adalah contoh perempuan yang tumbuh dari didikan penuh disiplin, menjalani kehidupan dengan tanggung jawab, dan kini menemukan makna terdalam dari syukur dalam kesehariannya.
Dan dari sanalah kekuatannya berasal.
Source image: meisye












