Nosel.id Jakarta- Maudy Hidayat, seorang perempuan muda asal Depok, adalah gambaran nyata tentang bagaimana perjalanan hidup yang penuh dinamika bisa membentuk pribadi yang tangguh dan mandiri.
Dari Jakarta ke Jogja, Blora, lalu menetap di Depok, kisah hidupnya dirajut oleh keberanian menghadapi kegagalan, kecintaan pada olahraga lari, dan keyakinan bahwa kesendirian bukanlah halangan untuk terus melangkah.
Lahir di Jakarta dari orang tua asal Jawa Tengah, Maudy memiliki memori indah tentang masa kecilnya di kampung halaman orang tuanya: Jogja dan Blora.
“Aku sempat diurus nenek-nenekku di sana,” kenangnya. Namun, Depok adalah tempat yang membentuk identitasnya.
“Secara official, aku orang Depok,” ujarnya sambil tertawa.
Ia tumbuh dalam keluarga berkecukupan yang ia sebut “penuh kejutan”, entah itu kejutan bahagia atau tantangan, semuanya ia jalani dengan lapang.
Perpindahan dari Jakarta ke kota-kota kecil, lalu ke Depok, memberinya perspektif unik tentang arti rumah.
“Aku belajar menghargai keragaman budaya dan kesederhanaan hidup sejak dini,” tambahnya.
Maudy baru saja menyelesaikan studi pada 2023.
Saat ini, ia menjalani peran ganda sebagai freelancer dan asisten manajer bisnis keluarga milik tantenya.
Meski sibuk, ia menemukan pelarian yang tak terduga: lari. “Awalnya, aku benci lari!” akunya.

Dulu, ia punya cita-cita yang mensyaratkan kemampuan fisik tertentu dalam olahraga ini, namun kegagalan memenuhi kriteria justru membuatnya trauma.
“Rasanya seperti tekanan yang menggunung,” ungkapnya.
Namun, jalan hidup membawanya kembali ke lari dengan cara yang lebih positif. Berkat dorongan tantenya, ia mencoba lagi dan menemukan kebahagiaan tak terduga.
“Setiap habis lari, rasanya happy banget. Akhirnya, aku keterusan,” katanya. Kini, lari bukan sekadar olahraga, tapi terapi untuk menjaga kewarasannya.
Maudy mengakui bahwa hobi larinya tak lepas dari suka duka. Duka terbesarnya adalah waktu yang terbatas.
“Aku harus pintar membagi waktu antara kerja, istirahat, dan lari. Kalau kurang istirahat, performa langsung turun,” jelasnya.
Namun, sisi positifnya jauh lebih besar: ia bangga punya mental baja untuk lari sendirian.
Bagi banyak orang, lari solo sering dihalangi rasa takut dihakimi orang lain. Tapi tidak bagi Maudy.
“Aku justru bangga bisa mandiri. Endorphin setelah lari itu seperti hadiah untuk jiwa yang lelah,” ujarnya.
Ia tak membutuhkan komunitas atau teman untuk tetap konsisten.
“Kadang, kesendirian itu bukti bahwa kita cukup kuat untuk bertahan,” tambahnya, mengutip filosofi hidupnya.
Di tahun 2024 ini, Maudy berharap hal-hal baik terus mengalir dalam hidupnya. Ia percaya bahwa kerja keras dan sikap pantang menyerah akan membawanya pada tujuan.

Pesan motivasinya untuk pembaca pun sederhana tapi mendalam: “Sometimes, you have to stand alone just to prove that you can still stand.”
Kalimat itu bukan sekadar kata-kata, tapi cerminan perjalanannya.
Dari gagal meraih cita-cita karena tekanan fisik, hingga menemukan kekuatan dalam kesendirian, Maudy membuktikan bahwa kegagalan bisa menjadi batu loncatan untuk menemukan versi diri yang lebih tangguh.
Source image: Maudy














