Nosel.id Jakarta- Bagi Luckyta, Lubuklinggau di Sumatera Selatan adalah lebih dari sekadar kota kelahiran.
“Ini adalah rumah besar yang penuh cinta,” ujarnya.
Di sana, hampir sebagian besar masyarakat adalah keluarganya sendiri. Kehangatan komunitas yang erat itu menciptakan sebuah ‘zona aman’ yang luar biasa.
Fondasi kokoh yang memberinya keberanian untuk keluar dan menjelajah, karena ia tahu selalu ada tempat untuk pulang.
Dari sanalah ia belajar bahwa hukum terlembut dan terkuat adalah hukum kasih sayang, pelajaran yang kelak mewarnai profesinya.
Cita-cita mengenakan seragam adalah warisan langsung dari sang Ayah. Dorongan untuk mengikuti, bahkan melampaui jejak almarhum ayahnya, membara dalam dirinya sejak kecil.
Namun, jalan menuju seragam itu tidak dibentangkan dengan karpet merah. Luckyta harus mengikuti tujuh kali tes kedinasan di berbagai instansi sebelum akhirnya berhasil pada percobaan ketujuh.
“Setiap orang punya jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda.”
Begitulah pepatah berharga yang ia petik dari rangkaian penolakan itu.
Ia memilih untuk percaya bahwa masa kegagalan itu telah usai, dan kini adalah waktunya untuk menuju tak terbatas dan melampauinya.

Kini, sebagai Jaksa, Luckyta menemukan bahwa profesi ini adalah panggilan jiwa yang sepenuhnya.
Bukan sekadar menuntut, melainkan menghadirkan keadilan dengan prinsip Tajam ke atas, Humanis ke bawah.
Ini berarti tegas pada pelanggaran hukum yang sistemik, namun penuh empati pada masyarakat kecil yang mungkin tersandung masalah.
Di sinilah ia memadukan disiplin hukum dengan kehangatan manusiawi yang ia dapatkan dari Lubuklinggau.
Uniknya, profesi ini justru menyatu dengan hobi terbesarnya: travelling dan cita-cita keliling dunia.
Sebagai abdi negara yang siap ditempatkan di mana saja, setiap penugasan baru ia pandang sebagai destinasi petualangan baru.
Setiap kota adalah ruang belajar baru, baik tentang hukum maupun tentang keindahan Nusantara.
Bekerja dan menjelajah bukan lagi dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari koin pengabdian yang sama.
Di balik seragam dan tugas-tugas beratnya, harapan Luckyta personal dan penuh makna.
Sesuai dengan namanya, ‘Lucky’, ia berharap dapat terus membahagiakan dan membawa keberuntungan bagi banyak orang.

Ini adalah misi hidupnya: menjadi saluran berkah dan kebahagiaan, baik melalui keputusan hukum yang adil maupun melalui interaksi kemanusiaan sehari-hari.
Kepada semua pembaca, Luckyta menyampaikan sebuah analogi yang dalam:
“Tidak harus 10 + 10 = 20. Mungkin jalanmu adalah 7 x 3 + 10 ÷ 2 x 2 – 9 + 5 – 7 = 20.
Yakinlah bahwa setiap orang akan sampai pada tujuannya masing-masing, meskipun dengan jalan yang berbeda-beda.”
Source image: luckyta














