Nosel.id Jakarta- Liza tumbuh di tanah Sumatra Barat, membawa darah Minang dan Mandailing yang kental dengan nilai keteguhan hati, kerja keras, dan keberanian bermimpi.
Masa kecilnya bukan tentang kemewahan, tetapi tentang perjuangan yang membentuk karakter.
Salah satu kenangan yang paling melekat adalah perjalanan sekolahnya dahulu: setiap pagi ia harus berangkat dari kebun, menyeberangi sungai dengan arus deras dan luas.
Bukan karena mencari tantangan, tetapi karena keadaan ekonomi orang tuanya yang saat itu serba terbatas.
Namun justru dari kesederhanaan itulah Liza belajar tentang kekuatan.
Ia mengenang satu sosok yang tidak pernah berhenti menyalakan semangatnya ibunya.
Sang ibu adalah sumber dukungan terbesar, motivasi terkuat, dan pelindung paling lembut yang ia punya.

Kehilangan ibunya baru-baru ini meninggalkan duka yang masih sangat dalam, namun Liza merasa warisan semangat dan cinta ibunya tetap hidup dalam setiap langkah yang ia ambil hari ini.
Ketertarikan Liza pada dunia fashion sebenarnya sudah ada sejak kecil.
Ia bermimpi menjadi model atau pengusaha fashion, dua dunia yang membuatnya merasa hidup.
Namun, karena berbagai keterbatasan, impian itu sempat ia simpan.
Hingga pada 2018, ia akhirnya mulai mengunggah konten. Saat itu ia masih bekerja penuh waktu, sehingga tidak bisa fokus.
Baru enam hingga delapan bulan terakhir ia memutuskan untuk benar-benar serius, totalitas setiap hari, dan memberikan sepenuh hati pada dunia konten kreator khususnya review outfit dan fashion.
Baginya, fashion bukan sekadar pakaian. Fashion adalah cara bercerita, cara menyembuhkan diri, dan cara menunjukkan bahwa setiap perempuan berhak merasa cantik dan percaya diri.
Dunia kreator fashion memberinya banyak hal: kesempatan bekerja sama dengan berbagai brand, pemasukan yang menjanjikan, hingga perasaan bangga ketika karyanya menginspirasi orang lain.
Namun tentu, perjuangannya juga panjang. Ada lelah mengedit video hingga larut malam, ada proses memikirkan konsep sampai kepala penuh, dan ada tekanan untuk terus berbeda di tengah ribuan kreator hebat di luar sana.
Ia sadar bahwa personal branding bukan hanya soal gaya, tetapi konsistensi, karakter, dan kejujuran dalam berkarya.
Liza memilih untuk tetap melangkah karena setiap karya adalah bentuk cinta pada impiannya sendiri.
Memasuki 2026, Liza menata harapannya dengan penuh keyakinan.
Ia memiliki wish list yang tidak sekadar materi, tetapi juga spiritual dan emosional.
Ia ingin memiliki rumah di Jakarta seharga tiga miliar bukan sebagai simbol pamer, tetapi sebagai bukti bahwa perjalanan dari kampung yang penuh keterbatasan dapat mengantarnya pada titik yang dulu hanya berani ia bayangkan.
Ia juga ingin berangkat umroh bersama suami tercintanya, serta menjalani hidup panjang bersama hingga tua, dan melewati semua musim kehidupan berdua. Suaminya adalah rumah kedua setelah ibunya, tempat hatinya berlabuh.
Dari semua perjalanan yang ia lalui, Liza menyimpan pesan yang sangat ia tujukan pada perempuan-perempuan yang saat ini tinggal di kampung, di pelosok, di tempat yang sering diremehkan orang:

“Jangan pernah malu untuk bermimpi.
Mimpi itu bisa diwujudkan dengan usaha maksimal.Buktikan kepada mereka yang meremehkan keluargamu, bahwa kamu mampu mengubah jalan hidupmu.
Berkaryalah, jadilah perempuan yang luar biasa.
Aku bisa, kalian kenapa tidak?”
Liza adalah bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas geografis.
Sungai deras, medan berat, keterbatasan ekonomi, bahkan duka kehilangan tidak ada yang mampu menghentikan seseorang yang mau terus melangkah.
Ia lahir di kampung, tetapi mimpinya melampaui batas kampung. Dan hari ini, mimpinya sedang tumbuh menjadi kenyataan.
Sebuah cerita tentang keberanian, keteguhan, dan cinta yang tidak pernah putus.
Source image: liza














