Nosel.id Jakarta- Di balik seragam guru yang sering kali diasosiasikan dengan kesan formal, ada sebuah cerita tentang ekspresi diri, dedikasi, dan cinta akan kehidupan.
Lita Kristiani, atau populer di sosmed Lita Arzhaq, seorang ASN guru yang menghabiskan masa kecilnya di Banyuwangi, Jawa Timur, membuktikan bahwa passion mengajar dan kecintaan pada fashion dapat berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang menginspirasi.
Lita bukanlah produk instan. Ia adalah hasil didikan lingkungan yang hangat dan alam yang sejuk di Banyuwangi, Jawa Timur.
Filosofi sejuk dan hangat dari kampung halamannya itu ternyata melekat kuat dalam karakternya.
Sejuk dalam kesabaran menghadapi dinamika kelas, dan hangat dalam cara ia berinteraksi serta mendekati siswanya.
Latar belakang inilah yang menjadi fondasi kokoh baginya untuk menjadi pendidik yang tak hanya transfer ilmu, tetapi juga transfer nilai dan empati.
Sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang pendidikan, Lita menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Namun, di balik label “guru” itu, ada seorang Lita yang menikmati kreativitas dalam berpakaian.
OOTD (Outfit of the Day) baginya bukan sekadar tren, melainkan sebuah ritual pagi untuk membangun kepercayaan diri dan mood positif sebelum memasuki ruang kelas.

“Ini adalah bentuk self-expression yang sederhana.
Saat kita merasa nyaman dan percaya diri dengan apa yang kita kenal, energi itu bisa terpancar ke sekitar, termasuk ke siswa,” ujarnya membagikan filosofinya.
Perjalanan ini tentu tidak selalu dipenuhi bunga. Sebagai guru, hari-harinya diuji oleh kesabaran menghadapi karakter unik setiap siswa, termasuk yang kerap disebut ‘bandel’.
Namun, Lita memilih melihatnya sebagai tantangan untuk lebih memahami dan berinovasi dalam mengajar.
Tantangan lainnya justru datang dari passion keduanya: memilih outfit yang tepat. Kriterianya tidak main-main: harus match, mencerminkan kepribadian, tetapi yang terpenting adalah nyaman.
Nyaman untuk bergerak aktif seharian, menulis di papan tulis, membungkuk mendampingi siswa, dan tentu saja, tetap terlihat profesional.
Di sinilah kreativitasnya benar-benar diasah, menemukan titik temu antara gaya pribadi dan tuntutan profesi.
Harapan Lita melampaui tugas kurikulum. Ia ingin menjadi guru yang inspiratif dalam arti seutuhnya.
Inspirasi itu tidak hanya datang dari cara ia menjelaskan pelajaran, tetapi juga dari energi, sikap, dan cara ia menjalani hidup.

Melalui gaya berpakaiannya yang positif, ia ingin menyampaikan pesan bahwa seorang pendidik bisa tetap autentik dan mengembangkan minat di luar bidangnya, tanpa mengurangi kredibilitas.
“Saya ingin siswa melihat bahwa kita bisa mencintai banyak hal secara bersamaan, dan semua itu bisa saling memperkaya,” harapnya.
Segala perjalanan dan pilihan hidupnya diikat oleh sebuah mantra sederhana namun dalam:
“Love the life you live. Live the life you love.”
Source image: lita














