Lil’li Latisha: Tentang Rumah, Harapan, dan Keberanian Bermimpi

Nosel.id Jakarta- Lil’li Latisha  lahir dan besar di Jakarta. Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai perpindahan tempat tinggal karena berbagai keadaan.

Ia tumbuh tanpa benar-benar memiliki satu tempat yang bisa ia sebut sebagai “rumah” dalam arti fisik yang menetap.

Namun dari pengalaman itu, Lil’li justru menemukan pemahaman yang jauh lebih dalam tentang makna rumah. Bagi dirinya, rumah bukan sekadar bangunan atau alamat tertentu, melainkan orang-orang yang selalu ada untuknya.

Rumah itu keluargaku,” ungkapnya.

Di tengah segala perubahan yang pernah ia alami, keluarga menjadi tempat yang paling hangat , penuh kasih, saling mendukung, dan selalu ada satu sama lain.

Kedekatan itulah yang hingga hari ini terus menjadi sumber kekuatan baginya, membawa semua kenangan, pelajaran hidup, dan rasa syukur ke mana pun langkahnya pergi.

Kini, Lil’li tengah menapaki babak baru dalam hidupnya sebagai mahasiswa penuh waktu di California Institute of the Arts (CalArts) di Amerika Serikat.

Ia baru menjalani tahun pertamanya di sana, sebuah perjalanan akademik yang ia jalani dengan penuh rasa syukur.

Kesempatan ini datang melalui full scholarship dari program Rise for the World, sebuah inisiatif global yang didukung oleh Schmidt Futures dan Rhodes Trust.

Beasiswa tersebut ia raih pada tahun 2021 melalui proyek yang ia dirikan sendiri bernama I EXIST!.

Inisiatif ini berfokus pada pemberian akses pendidikan seni secara gratis bagi anak-anak dari latar belakang kurang beruntung.

Dari proyek tersebut, Lil’li semakin menyadari pentingnya memperjuangkan kesetaraan akses, khususnya bagi anak-anak yang sering kali tidak memiliki kesempatan yang sama.

Kepeduliannya terhadap isu sosial juga membawanya untuk memulai inisiatif lain bernama Philosophy Community Kitchen, sebuah ruang komunitas yang menggabungkan dialog, refleksi, dan kepedulian sosial.

Ketertarikannya terhadap isu kesenjangan sosial dan keberlanjutan pun semakin berkembang seiring waktu.

Perjalanan itu kemudian membawanya pada kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sejak tahun lalu, Lil’li dipercaya menjadi UNICEF Youth Champion, sebuah peran yang ia jalani dengan penuh tanggung jawab dan kerendahan hati.

Namun di balik berbagai pencapaian tersebut, perjalanan Lil’li tentu tidak selalu berjalan mulus. Ia mengakui bahwa perjalanannya dipenuhi dengan berbagai naik turun.

Di saat-saat yang sulit, ia belajar satu hal sederhana namun penting: tetap menjalani prosesnya.

Kadang kita hanya perlu masuk ke situasinya, menghadapinya, dan pelan-pelan melewatinya,” katanya.

Dari pengalaman-pengalaman itu, Lil’li belajar untuk lebih hadir di momen saat ini.

Ia berusaha tidak terlalu terjebak dalam pertanyaan “bagaimana jika”, tetapi lebih fokus pada apa yang bisa ia lakukan hari ini.

Kesadaran itu membuatnya memahami bahwa perubahan adalah bagian alami dari kehidupan. Tidak semua hal akan berjalan sesuai rencana, tetapi justru dari situ ia belajar untuk berdamai dengan diri sendiri.

Baginya, rasa tenang dan rasa syukur menjadi kunci yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Hidup terasa lebih ringan, lebih positif, dan memberinya keberanian untuk terus melangkah.

Harapan Lil’li sebenarnya sederhana. Ia ingin membuat orang tuanya bangga  bukan hanya melalui pencapaian, tetapi dengan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Lili juga ingin terus memberi dampak positif, sekecil apa pun itu, bagi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.

Terutama bagi anak-anak yang mungkin masih menunggu kesempatan yang sama seperti yang pernah ia terima.

Lil’li percaya bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil. Karena itu, ia ingin terus berjalan perlahan, hari demi hari, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai yang ia yakini.

Dan untuk siapa pun yang mungkin pernah berada di posisi yang sama seperti dirinya dulu, Lil’li memiliki satu pesan sederhana:

Tetaplah menjadi diri sendiri, dan jangan takut untuk bermimpi.

Ia selalu mengingat satu prinsip dari inisiatif yang ia dirikan, I EXIST! untuk tidak cepat menghakimi orang lain.

Cobalah melihat lebih dalam, melampaui luka atau cerita yang mungkin tidak terlihat di permukaan. Beri ruang bagi setiap orang untuk memulai kembali.

Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki cerita.

Dan setiap cerita selalu memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi sesuatu yang lebih berarti.

 

 

Source image: lili