Nosel.id Jakarta- Lestya Dewi Angken lahir dan besar di Kota Bogor, tepatnya di Komplek AL Ciangsana.
Ia tumbuh di lingkungan yang hangat, di mana tetangga saling menyapa dan nilai kebersamaan masih terjaga erat.
Dari keluarga sederhana itulah, Lestya ditempa menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan kuat secara mental sejak usia dini.
Cita-citanya untuk menjadi seorang perwira mulai tumbuh sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.
Bukan sekadar mimpi, Lestya mulai membangun dirinya dengan menerapkan hidup disiplin, memahami arti tanggung jawab, pengorbanan, serta komitmen untuk terus melangkah maju tanpa menyerah.
Ia sadar bahwa jalan pengabdian bukan jalan yang mudah, namun justru di sanalah makna hidupnya terbentuk.
Perjalanan Lestya menuju dunia militer tidaklah singkat. Ia pernah jatuh dan bangkit berkali-kali.
Lima kali mencoba Bintara TNI AL, dua kali Bintara TNI AD, dan satu kali Bintara TNI AU.
Kegagalan demi kegagalan tidak memadamkan tekadnya.
Hingga akhirnya, pada kesempatan terakhir, ia justru lulus AKMIL, sebuah pencapaian yang bahkan melampaui apa yang pernah ia bayangkan.

Menjadi perwira TNI AD membawa suka dan duka tersendiri bagi Lestya.
Suka karena ia dapat mengabdi langsung kepada bangsa dan negara, memimpin dengan penuh tanggung jawab, serta hadir dalam pengabdian nyata untuk masyarakat.
Duka pun tak terelakkan, waktu bersama keluarga sering kali terbatas karena tugas datang tanpa mengenal hari dan jam.
Namun bagi Lestya, pengorbanan itu adalah bagian dari sumpah pengabdian yang ia pilih dengan sadar.
Sosok paling inspiratif dalam hidupnya adalah sang Ayah.
Ayahnya hanya lulusan SMP dan memulai karier militer melalui jalur Tamtama, dengan pangkat terakhir Kopral Kepala.
Dari ayahnya, Lestya belajar tentang ketulusan dalam mengabdi, disiplin tanpa pamrih, dan makna sejati kehormatan.
Sang ayah selalu menanamkan bahwa pangkat bukan ukuran kemuliaan, integritas dan tanggung jawablah yang membuat seseorang benar-benar mulia.
Kini, ketika pangkat Lestya justru berada jauh di atas ayahnya, ia kerap merasa haru dan tak percaya.
Baginya, keberhasilan ini bukan tentang diri sendiri semata, melainkan tentang mengangkat derajat orang tua dan membuktikan bahwa keterbatasan latar belakang bukan penghalang untuk meraih mimpi besar.
Rasa syukur menjadi napas yang selalu menyertai setiap langkahnya.
Harapan terbesar Lestya Dewi Angken adalah senantiasa menjaga kerendahan hati dan keteguhan jiwa sebagai seorang wanita militer.
Ia berkomitmen menjalankan setiap amanah dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dan kejujuran.

Lestya ingin menjadi pribadi yang kokoh dalam prinsip, namun tetap humanis dalam sikap.
Hadir sebagai teladan, serta memberi manfaat nyata bagi satuan, masyarakat, dan bangsa.
Kisah Lestya adalah bukti bahwa ketekunan, doa, dan pengabdian yang tulus mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, serta mimpi sederhana menjadi prestasi yang membanggakan.
Source image: Lestya














