Nosel Purworejo- Catatan ringkas Sinau Bareng Cak Nun di penghujung 2022 ini penulis ambil di Desa Depokrejo, Kab Purworejo. Desa pesisir selatan yang dahulu terkenal sebagai basis perlawanan paling dahsyat dari Laskar Diponegaran, sekaligus beberapa dekade lalu banyak idiom negatif yang melekat dengan daerah ini.
Cak Nun melandasi dan meluas dengan menggarisbawahi kita semua bersyukur bahwa di desa masih ada kegiatan ini, dan seharusnya yang di merti desani, di selamati ya para pemimpin, para pejabat dimana beban dan amanah yang di emban lebih besar.
Merti desa yang sepenjuru desa di nusantara hampir semuanya mengadakan dengan kurang lebih tujuh puluh empat ribu desa atau dusun. Dengan nama dan susunan acara yang berbeda-beda tetapi esensinya sama. Merti desa mengajak kita semua untuk berefleksi ke masa lalu guna menatap masa depan yang tak gamang dan kehilangan arah.
Dengan merti desa pada definisi istilah kita diingatkan misal di desa ini pertama kali ini dihuni oleh tetua, desa A menjadi desa perdikan dan alasan historis-sosiologis lainnya. Tetapi transendental, nilai-nilai yang berusaha di jaga dan dipegang sekuat mungkin di era dunia bersama atau globalisasi nan semakin menantang. Merawat akar, tidak membabat alas, menjaga nilai-nilai kearifan lokal secara hibrid.
Bagaimana tidak, bangsa nusantara ialah bangsa yang super norma, mempunyai adab dan peradaban sudah unggul. Ada kiasan kita itu terlalu baik kepada semua orang, baik orang berambut putih, bermata sipit atau kepada sesamanya jadi jika kita dicubit satu kali malah diberikannya tubuh yang satu untuk dicubit lagi?
Jika memaknai dan menjaga koridor nilai yang transendensi lewat Merti Desa ini, seperti yang dilakukan di Depokrejo, kemudian PR kita selanjutnya seperti yang sudah dilakukan dan dicontohkan secara kontinyu dan istikomah dari Mbah Nun beserta rombongan dan cucu-cucunya ialah kita bisa menjadi manusia yang penuh nilai tentu saja dan bermartabat.
Tidak perlu dikenal menjadi apa, tidak perlu risau apakah di akui atau tidak kebaikan dan niat-niat kemuliaan ini oleh manusia.
Tetaplah berjalan dan merunduk. Tetaplah lupa bahwa tanganmu mampu menggoreskan luka, karena kita hanya menggunakannya untuk menyuapkan cinta dan menghapus air mata. Kemudian ketika kita dengan tulus mencoba untuk menguatkan tepat di saat kita sendiri sangat butuh untuk dikuatkan.
Atau saat kita semua tak mampu meratapi penderitaan diri kita sendiri karena tak sampai hati menatap penderitaan orang lain. Lantas tatkala ketenteraman tetap bersemi di dalam hati meski badai dari delapan penjuru mata angin mengepung diri kita sendiri.
Itulah yang diharap Mbah Nun kepada cucu-cucunya ini. Para maiya dari Depokrejo. Tetap bersama-sama, mencari nilai-nilai keutamaan yang tetap ada di semakin menuanya zaman, dan semakin nihilnya kebajikan dan keteladanan dari sosok yang bestari.
Oleh: Muhammad Sidiq Al Plausani.














