Nosel.id Jakarta- Kat Amadea tumbuh dari keluarga yang hangat dan saling terhubung.
Meski lahir di Jakarta, jejak masa kecilnya berpindah-pindah, 17 tahun di Bekasi, 4 tahun di Bandung, sempat singgah di Pontianak, hingga akhirnya kembali menetap di Bogor setelah menikah.
Perpindahan kota tak pernah mengurangi satu hal yang paling ia syukuri: ikatan keluarga yang kuat.
Ia dibesarkan dalam lingkungan family complex, keluarga besar yang terbiasa bersama. Hingga kini, kebersamaan itu tetap terjaga.
Setiap akhir pekan, Kat dan keluarganya masih rutin berkumpul bersama orang tua, ipar, adik-adik, dan anak-anak.
Dari hal sederhana seperti nge-wibu bareng sampai main PlayStation bersama, kehangatan keluarga menjadi ruang pulang sekaligus sumber energi hidupnya.
Perjalanan profesional Kat terbilang dinamis.
Ia memulai karier dengan mengikuti program ODP di sebuah bank swasta, kemudian memilih hijrah ke dunia e-commerce.

Tak berhenti di situ, Kat melangkah lebih jauh hingga dipercaya menjadi manajer di salah satu perusahaan ritel terbesar di Indonesia.
Namun di balik jalur karier yang mapan, ada keresahan yang tumbuh: keinginan untuk memberi dampak yang lebih luas.
Langkahnya semakin bermakna ketika ia mengikuti Bekal Pemimpin Fellowship, sebuah program kepemimpinan yang berfokus pada pengelolaan sumber daya alam secara lestari.
Dari sanalah kesadaran sosialnya menguat. Kat memberanikan diri membangun Gemaru, sebuah gerakan sosial yang berfokus pada pemberdayaan alam dan masyarakat.
Kecintaannya pada kopi kemudian melahirkan Hipotesa Coffee, bukan sekadar kedai, tetapi ruang belajar entrepreneurship dan percakapan ide.
Bagi Kat, bisnis bukan hanya soal profit, melainkan medium pembelajaran dan pemberdayaan.
Sejalan dengan itu, ia juga aktif sebagai content creator, pembicara, dan tutor kelas konten serta literasi.
Membaca dan berbagi adalah dua hal yang tak terpisahkan dari hidupnya.
Mengaku sebagai pribadi multipassionate, Kat menikmati mengerjakan banyak hal yang ia cintai. Energinya besar, ide-idenya mengalir.
Namun di balik itu, ia tak menutup mata pada sisi lelah yang kerap datang.
Burn out, baginya, adalah konsekuensi dari mencintai terlalu banyak hal, ” Burn out yang menyenangkan,” katanya sambil tersenyum.
Cara Kat merawat dirinya sederhana tapi bermakna: memberi jeda.
Ia mempraktikkan mindfulness, journaling, dan yang terpenting, kesadaran untuk berhenti sejenak ketika tubuh dan jiwa membutuhkannya.
Ia percaya bahwa jeda bukan tanda kalah, melainkan bagian dari proses bertumbuh.
Dalam setiap langkah, Kat menautkan harapan dan doanya kepada Allah SWT.
Ia ingin terus bermanfaat—bagi keluarga, bagi orang-orang terdekat, dan bagi masyarakat luas.
Ia berharap dapat bertumbuh bersama suami dan lingkungan yang saling menumbuhkan, seraya meyakini bahwa semua yang ia jalani terjadi atas izin-Nya.
Doanya sederhana namun dalam: semoga setiap ikhtiar termasuk dalam fastabiqul khairat dan selalu berada dalam perlindungan Allah.

Untuk para pembaca Indonesia, Kat meninggalkan pesan yang jujur dan membumi:
Bertumbuh berarti berani memberi ruang jeda dan menerima ketidaknyamanan.
Jangan takut pada kerikil dan riak jika ingin menjadi versi diri yang lebih baik.
Semoga kita semua senantiasa dikuatkan dan diperluas “kolam penampung berkah”-nya, agar rezeki, ilmu, pengalaman, dan pelajaran hidup dapat kita terima dengan hati yang lapang.
Source image: Kat Amadea












