Nosel.id Jakarta- Jenika lahir di sebuah kota kecil di Jawa Timur, Tulungagung.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang hangat, keluarga cemara versi nyata, penuh cinta dan tawa.
Meski begitu, Jenika tidak terlalu melekat pada satu tempat bernama “kampung halaman”.
Hidupnya cenderung nomaden, berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain, mengikuti proses dan pilihan hidup yang ia jalani dengan sadar.
Saat ini, Jenika sedang menikmati masa liburan setelah kontrak panjang di kapal pesiar.
Namun liburan baginya bukan berarti berhenti bergerak.
Ia tetap aktif bekerja di sebuah restoran di Bali, sambil mengurus bisnis clothing dan travel camp yang sedang ia bangun perlahan.

Hidupnya mungkin terlihat sibuk, tapi di sanalah ia merasa hidup, bergerak, belajar, dan bertumbuh.
Bekerja di kapal pesiar memberikan banyak cerita. Dari sisi positif, gaji yang didapat memang cukup menjanjikan. Namun di balik itu, ada perjuangan yang tidak sedikit.
Bekerja di dapur kapal berarti harus siap menghadapi ritme kerja yang keras: tanpa hari libur selama kontrak sembilan bulan.
Jam kerja bisa mencapai 13 jam per hari, dan waktu tidur sering kali hanya sekitar lima jam, itu pun sudah tergolong “mewah”.
Belum lagi harus beradaptasi dengan rekan kerja dari berbagai belahan dunia, dengan latar belakang budaya, karakter, dan cara komunikasi yang sangat beragam.
Di sanalah mental benar-benar diuji.
Meski begitu, Jenika tidak pernah menyesali pilihannya. Justru dari dapur-dapur itulah ia ditempa.
Ia belajar disiplin, tahan banting, dan mengenal dirinya sendiri lebih dalam. Baginya, dunia kitchen bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan.
Karena itu, ia selalu berpesan dengan jujur: bekerja di dapur membutuhkan passion dan mental yang kuat.
Tanpa itu, perjalanan akan terasa jauh lebih berat.
Tidak semua orang harus berada di kitchen, yang terpenting adalah menemukan bidang yang benar-benar sejalan dengan diri sendiri.
Ke depan, harapan Jenika sederhana namun penuh makna. Ia ingin terus berkembang di dunia bisnis tanpa harus melepaskan identitasnya sebagai seorang chef.
Ia bermimpi tentang karier yang terus naik, keluarga yang selalu bahagia, dan kehidupan yang tetap seimbang meski penuh tantangan.
Jenika juga percaya satu hal penting: setiap manusia punya proses yang berbeda. Tidak semua usaha langsung terlihat hasilnya. Ada masa menunggu, ada masa ragu, ada masa jatuh.

Ia sendiri mengakui bahwa titik awalnya bukan sekadar nol, tapi bahkan minus. Namun dari situlah ia belajar untuk sabar, konsisten, dan percaya pada proses.
“Kalau sekarang belum kelihatan hasilnya, nggak apa-apa,” kira-kira itulah pesan yang ingin ia sampaikan. Selama kita terus berjalan, hasil itu akan datang pada waktunya.
Source image: jenika













