Nosel.id Jakarta- Jeje lahir di Jakarta, kota yang sejak lama mengajarkannya arti bertahan, beradaptasi, dan terus bergerak.
Meski berdarah Manado dan Bugis, kerasnya Jakarta sudah menjadi bagian dari dirinya.
Hiruk pikuk ibu kota, keberagaman karakter manusia, dan dinamika kehidupan urban membentuk Jeje menjadi pribadi yang tangguh sekaligus fleksibel.
Ia tumbuh dengan memahami bahwa hidup tak selalu berjalan lurus, tapi selalu bisa dijalani dengan cara yang jujur pada diri sendiri.
Sejak kecil, dunia kamera sudah menarik perhatiannya.
Photoshoot bukan sekadar hobi, tapi ruang ekspresi. Jeje sempat melangkah lebih jauh dengan mengikuti Gadis Sampul, sebuah pintu menuju mimpi yang kala itu terasa sangat nyata.
Namun hidup mengajarkannya pelajaran besar saat sang ayah berpulang.
Sosok Ayah yang menjadi salah satu pendukung terbesarnya pergi, dan bersama itu, Jeje pun mengubur mimpinya di dunia tersebut.
Bukan karena menyerah, tapi karena ia memilih bertahan dan melanjutkan hidup dengan cara lain.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Jeje menapaki dunia kerja dengan penuh usaha.
Ia pernah terjun di dunia hospitality, menjadi customer service di salah satu bank besar, hingga bekerja di back office.
Perjalanan itu memperkaya pengalamannya, memperluas sudut pandang, dan mengasah mental profesional.
Hingga akhirnya, Jeje menemukan kenyamanan di dunia freelance.
Bukan hanya soal fleksibilitas, tapi juga kebebasan mengatur hidup, dan tentu saja, hasil yang terasa lebih sepadan dengan usaha.
Menjadi freelancer memberinya banyak cerita.
Sukanya, ia bisa bertemu berbagai karakter manusia, belajar membaca orang, dan memahami kehidupan dari banyak sisi. Dukanya? Tak sedikit juga, tapi Jeje memilih menertawakannya.
Baginya, hidup bukan tentang menghindari masalah, melainkan menikmati prosesnya. Ia memegang satu prinsip sederhana yang selalu ia yakini, kutipan dari Bob Marley:
“Love the life you live. Live the life you love.”
Doa Jeje pun tidak muluk. Ia hanya ingin diberi waktu yang panjang dan rezeki yang deras.
Cukup untuk membahagiakan dirinya sendiri, keluarga, dan sahabat-sahabat yang selalu ada di sisinya.
Baginya, kebahagiaan sejati bukan soal pencapaian besar semata, tapi tentang bisa berbagi dan hadir sepenuhnya untuk orang-orang tercinta.

Sebagai penutup, Jeje meninggalkan pesan sederhana namun dalam untuk siapa pun yang membaca kisahnya:
Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya. So, enjoy every little moment.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling tulus menjalaninya.
Source image: jeje












