Irma Nazrita Sari: Dari Petualangan Masa Kecil hingga Ketenangan yang Menjadi Kekuatan

Nosel.id Jakarta- Irma Nazrita Sari yang akrab disapa Irma lahir dan besar di Jakarta, kota yang baginya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan panggung bagi mimpi-mimpi besar.

Meski berdarah asli Nusa Tenggara Barat dari kedua orang tuanya, Jakarta menjadi ruang tumbuh yang membentuk karakter, keberanian, dan rasa ingin tahunya sejak usia dini.

Sejak masih kanak-kanak, Irma dikenal sangat aktif dan gemar bereksplorasi.

Masa kecilnya diwarnai petualangan yang tak jarang terbilang “berbahaya”: bersepeda ke sawah, bermain ke sungai, hingga ngebolang tanpa sepengetahuan orang tua.

Hampir setiap petualangan menyisakan luka di tubuh, namun justru dari luka-luka itulah Irma belajar tentang keberanian, kemandirian, dan keberanian untuk mencoba hal baru tanpa rasa takut.

Ia percaya, pengalaman masa kecil tersebut membentuknya menjadi pribadi yang selalu penasaran, berani melangkah, dan tidak mudah gentar menghadapi tantangan hidup.

Irma juga bersyukur tumbuh di masa ketika internet belum seintens sekarang.

Baginya, itu adalah anugerah.karena ia benar-benar bisa menikmati masa kecil secara utuh, hadir di dunia nyata, bukan hanya di layar.

Dulu ia sangat anti tidur siang, namun kini justru merasa tidur siang adalah kemewahan yang dirindukan.

Kerinduan pada masa kecil itu menjadi pengingat akan kesederhanaan dan kebebasan yang pernah ia rasakan.

Dalam perjalanannya membangun karier dan personal branding, Irma memegang prinsip yang sederhana namun kuat.

Menurutnya, kunci agar bisa dilirik brand untuk berkolaborasi adalah konsistensi dalam membuat konten yang menarik dan selaras dengan karakter diri.

Ia juga menekankan pentingnya bergabung dalam komunitas untuk memperluas jaringan, sekaligus belajar dari banyak perspektif.

Namun di atas semua itu, Irma percaya satu hal yang tak tergantikan: menjadi diri sendiri.

Branding yang kuat, menurutnya, lahir dari kejujuran terhadap siapa diri kita sebenarnya.

Soal kreativitas, Irma melihat teknologi sebagai peluang, bukan ancaman.

Ia gemar mengonsumsi konten-konten kreatif di media sosial untuk memperkaya referensi dan sudut pandang.

Namun ia juga menegaskan bahwa inspirasi tidak melulu datang dari internet. Inspirasi bisa muncul dari mana saja dari kehidupan sehari-hari, dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.

Setiap melihat sesuatu yang baru dan menarik, Irma menyimpannya “di otak”, bahkan tak jarang mengabadikannya lewat foto agar ide tersebut bisa diolah kembali di kemudian hari.

Harapan Irma ke depan terasa tulus dan membumi. Ia berharap kariernya terus bertumbuh, rezeki mengalir dari berbagai arah yang halal dan berkah, serta setiap hajatnya dimudahkan satu per satu.

Ia juga ingin menjadi pribadi yang beruntung, bermanfaat bagi sekitar, dan tentu saja melihat keluarganya selalu diberi kesehatan serta kebahagiaan lahir dan batin.

Di akhir, Irma meninggalkan satu pesan reflektif yang menjadi cerminan perjalanan hidupnya:

Kekuatan yang paling sulit ditiru adalah ketenangan. Orang bisa meniru gaya bicaramu, penampilanmu, dan gerakanmu.

Tapi tidak ada yang bisa meniru kedamaian yang kamu bangun dari dalam. Tenang adalah tanda kuat, bukan lemah.”

Lewat kisahnya, Irma Nazrita Sari mengingatkan bahwa keberanian untuk mencoba, kejujuran pada diri sendiri.

Dan ketenangan batin adalah fondasi penting dalam menjalani hidup di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

 

 

Source image: irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *