Nosel.id Jakarta- Lahir di Semarang dan kini menetap di Pekalongan, perjalanan hidup Inawati S. Pribadi bukan sekadar soal berpindah kota, melainkan tentang keberanian menata ulang langkah.
Perpindahan dari kota besar ke kota yang lebih kecil sempat membuatnya ragu, takut karier yang sudah dibangun akan redup begitu saja.
Namun Ina memilih untuk percaya pada satu hal: dimanapun kita tinggal, selama ada niat dan usaha, selalu ada jalan.
Tekun dan konsisten adalah dua kunci yang selalu ia pegang. Lingkungan baru tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti, tetapi justru menjadi ruang lahirnya versi Ina yang lebih matang.
Teman-temannya sejak kuliah selalu mengenal Ina sebagai sosok yang multitalent.
Ia pernah menekuni pembuatan aksesori handmade, headpiece, gelang, dan berbagai kerajinan lain sebelum akhirnya menemukan panggilan hati baru: dunia cooking dan baking.
Tanpa sekolah formal, ia belajar secara otodidak. Dapur menjadi ruang bermain, eksperimen, sekaligus tempat ia mencurahkan kreativitas.

Kecintaannya ini kemudian ia alirkan ke konten kuliner yang hangat dan apa adanya. Banyak yang merasa terinspirasi oleh caranya memasak, mencoba, gagal, lalu bangkit lagi.
Dan dari sebuah hobi, tumbuhlah mimpi yang kini jadi nyata, sebuah bakery miliknya sendiri.
Impian masa mudanya perlahan menjelma menjadi pintu rezeki dan kebahagiaan.
Baginya, suka paling bermakna adalah ketika ia bisa bermanfaat bagi orang lain.
Ina sering membagikan roti buatannya kepada teman, tetangga, hingga pengemis di jalan. Harapannya sederhana: setiap orang berhak menikmati sedikit rasa manis di hari mereka.
Namun dunia usaha tentu tak lepas dari badai. Ada masa sepi, ada lelah, ada kompetisi yang semakin hari semakin ketat.
Namun ia belajar satu hal penting, selalu berinovasi, selalu mencintai apa yang dikerjakan, dan menerima kekurangan proses dengan lapang dada. Dari situlah kebahagiaan bekerja lahir.
Harapan yang Sederhana namun Menguatkan
Ina tidak muluk-muluk. Doanya untuk dirinya dan semua orang hanya satu: semoga segala usaha dilancarkan, dimudahkan, dan setiap mimpi yang kita perjuangkan pelan-pelan menemukan jalannya.

Motto hidupnya menjadi penutup yang menguatkan siapa pun yang membaca kisah ini:
“Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa?
Ingat, kesempatan tidak datang dua kali.”
Pesan sederhana, namun bagi Ina, kalimat itu adalah bahan bakar yang membuatnya terus berjalan.
Source image: ina














